Minggu, 13 September 2020

Akan Dikemanakan Kaderisasi KM FKIP?

     Tak terasa setengah tahun yang telah berlalu ternyata seperti halnya 6 bulan perjalanan. Ya tidak jauh dari angka itu istilah “Yo meh kepiye meneh?” (ya mau gimana lagi?) menjadi perenungan rekan-rekan organisatoris sekaligus menjadi simbol kebesaran hati yang berupaya menerima “kahanan” perkuliahan dan organisasi yang dibenturkan pandemi covid-19 yang juga memaksa setiap individu untuk sesegera mungkin mencari jalan-jalan pintas demi segala keberlangsungan hidup; seperti membiasakan kehidupan serba daring misalnya.
“Pemiranya aja online, dedikasi dan segala prokernya juga online. Wkwk.”
      Terlalu lama otak tumpul dengan kehidupan yang serba dipercandu layar, sampai pada akhirnya celetuk itu muncul di lamunan setiap kali gabut. Sepintas menengok bagaimana memorabilia gerbang kisah Organisasi Mahasiswa (Ormawa) KM FKIP periode 2020/ 2021 aku (Ade) sebagai emaknya DPM FKIP, Kholid dan Rudi sebagai Ketua dan Wakil Ketua BEM FKIP, Singgih Ebit ujung tombak Himaprodi PBSI, Nurvan Arsyada ortu EDSA, Qirom Jian wali Himapipa, Rouf Heni pak’e buk’e Himatika, dan Murdani Lia payung Himapbio awal (banget) terpilih sebagai pimpinan Ormawa KM FKIP kami teko gas-gasan konsolidosa di belakang Sekre Himpunan membahas wacana-wacana brilian untuk pemajuan KM FKIP. Disusul dengan hadirnya sosok Mbak Adin yang sudi menjadi Sekjenku di DPM membuat ruh optimisme akan keberhasilan seluruh lembaga ormawa FKIP semakin cerah.
     Berbagai drama yang ditempuh demi mendapat kolega-kolega militan pada akhirnya bertemulah para insan yang hingga kini digariskan untuk bertahan sebagai rekan seperjuangan baik teman-teman DPM FKIP parlemen abdi rasa, teman-teman BEM FKIP kabinet abdi karya, keluarga besar Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) FKIP yang menjadi satu garda keluarga yang masih setia menjaga istilah “KM FKIP” sekalipun berbagai peliknya keadaan selama pandemi menjadi sandungan dinamika ormawa periode saat ini. Ehm, BTW nggak sengaja juga lho gais otakku dan otak Kholid Rudi seketika aja kompakan membentuk istilah “Parlemen Abdi Rasa” dan “Kabinet Abdi Karya” di masing-masing lembaga kami tanpa kompromi sebelumnya, itu pun kami sadari setelah DPM BEM rilis struktur. Secara sederhana dari sini pun dapat tercermin betapa UWUW-nya kita orang sedari awal membentuk impian yang sevisi untuk keberlangsungan ormawa FKIP.

Suka Duka Ormawa Periode Pandemi
“Esensi berorganisasi tu apa sih kalau bukan belajar untuk menghadapi masalah?”
     Entah berapa manusia yang kerap menyadarkan hal demikian pada ku. Secara tidak spontan akhirnya pola pikir yang tertanam di benakku berorganisasi berarti belajar hidup di antara segala wujud kesengsaraan yang setiap detiknya menjadi rentetan waktu penuh kemubalan (kepusingan). Tapi yaa aku sepakat dengan falsafah Jawa yang selalu menanamkan idiom “Menungso kui opo nandure” artinya apa yang akan menjadi penentu masa depan akan berbanding lurus dengan usaha, pengorbanan, pembelajaran dan segala tindakan di hari-hari kemarin dan saat ini. Pun dengan ungkapan “Jer basuki mawa beya” aku menjadi semakin mengerti organisasi adalah ruang yang tidak salah untuk membentuk penghayatan betapapun kebahagiaan (kesuksesan) dalam hidup hanya akan diraih dengan pengorbanan-pengorbanan. 
     Lebih kekirian kekinian lagi dengan meminjam jargon “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk” milik Tan Malaka aku kian sepakat bahwa melalui organisasilah pembelajaran hidup yang ilmunya tidak ada di bobot SKS mata kuliah dalam kelas justru bisa dengan sebegitu gratisnya mampu diperoleh melalui perlbagai ketertekanan, kepeningan, kesedihan, dan lagi-lagi “pengorbanan”. Aku tak begitu berminat menyisir hal apa saja yang didapat dari kehidupan berorganisasi karena rasanya aku akan terlalu menggeneralisasi indikator capaian pembelajaran di luar kelas, akan tetapi sedikit menyisir dan berbagi sepenggal perjalanan tentu saja melalui pembentukan organisasi mahasiswa (ormawa) aku kian mendapati makna-makna unik kehidupan mulai dari indahnya memiliki segudang relasi, keterampilan manajemen diri dan kelompok, terasahnya kemampuan memimpin, tahan banting, percaya diri, pola pikir terbuka, dan tetek bengek lain sampai bahkan yang paling membedakan ormawa dengan organisasi sekolah adalah satu “kesadaran peran”. Kesadaran peran tak sebatas pada bagaimana kesangaran seorang individu yang melawan tirani sebuah rezim dengan berdemonstrasi, tidak. Lebih dari pada itu memang dengan segala dinamika yang membenturkan aku menjadi paham bagaimana semestinya kehidupan seorang mahasiswa mempertanggungjawabkan statusnya sebagai mahasiswa itu sendiri.
     Kesadaran peran yang tertanam di masing-masing jiwa rekan ormawa KM FKIP tak salah jika pada akhirnya mengalami fase yang krisis akibat wacana-wacana manis di awal tetiba terkikis. Kejenuhan-kejenuhan komunikasi daring yang ditandai dengan menurunnya fungsi utama Whatsapp Grup (WAG) sebagai media keseharian ormawa menjadi kerikil yang memicu masalah-masalah baru. Tumpukan tugas dosen yang tidak sedikit terlalu “bajigur” pun turut mempengaruhi bagaimana spirit kawan-kawan dalam mempertahankan peranan diri di masing-masing kedudukannya. Ah ya, tidak mengelak memang inilah yang terjadi. Rasa pekewuh untuk mengkritik mengevaluasi pun rasanya kian terpupuk dan tumbuh subur dibanding hasrat sebelum organisasi ditimpa kahanan serba daring. Memang bahasa komunikasi primer (langsung) dengan sekunder (tidak langsung) memiliki perbedaan yang sangat signifikan dari segi penyampaian maupun penerimaannya.
     Tak hanya masalah pengkomunikasian, psikis efek terlalu lama di rumah dan jarang berinteraksi sosial juga memicu otak relatif enggan memikirkan hal-hal yang dianggap berat. Dari permasalahan sejenis inilah yang sebenarnya menjadi akar timpangnya peran pengisi struktur ormawa. Di sisi lain teman-teman yang masih mau dan mampu surviv menjadi kian terbentuk karena terbiasa tetap melangkah walau pincang, tetap bermanfaat meski tersayat. Menjamin suatu kesadaran intrapersonal memang bukan perkara mudah, tinggal bagaimana kita belajar dari keadaan ini untuk memahami miniatur kehidupan yang mengenalkan bahwa nyatanya dalam keberlangsungan sosial tidak semua individu memiliki daya tahan bermain peran yang seragam dengan kadar ‘kesadaran’ kita. 
     Terlepas dari sandungan keadaan rumah tangga ormawa, periode pandemi covid-19 juga dihujani tekanan yang tidak kalah dahsyat dari sisi luar. Desakan struktural fakultas yang menuntut ini itu tetapi mempersulit sistem penganggaran, misalnya. Anggaran yang serba dipangkas 50% dari penganggaran awal dengan kriteria pencairan yang cukup memutar balikan otak pun menjadi sensasi tersendiri bagi ormawa periode kali ini. Proker primer serba daring terancam “kurang ngena” dengan sasaran dan harapan semula. Mengharukannya teman-teman ormawa KM FKIP baik legislatif maupun eksekutif justru masih sebertahan itu dalam memperjuangkan program-program dengan mengedepankan asas kebermanfaatan.
     Meminjam doktrin guru sosiologi SMA-ku “Manusia akan selalu bersedia berserikat dan seperjuangan selama ia merasakan penderitaan yang sama rasa”,  aku menjadi bersyukur ada di masa ini bersama rekan-rekan dan adik-adik yang begitu gigih memperjuangkan peran, mengedepankan kebermanfaatan, lebih rutin saling menguatkan meski sekadar spam chat sambatan misuhan, sependeritaan sepengharapan, dan masih banyak hal-hal manis yang ternyata menjadi kesan pembeda dibanding kehidupan berorganisasi di masa yang “B” aja.

Pergibahan Kaderisasi KM FKIP Duniawi
Rasa sulit untuk melepas, khawatir pada kedewasaan generasi yang semakin dipercemas, mempertanyakan kesiapan adik-adik kita, meragukan kecukupan bekal, semua itu hal yang sangat lumrah dirasakan suatu kepemimpinan terhadap nasib organisasi di periode selanjutnya. Kekhawatiran-kekhawatiran itulah yang menjadi simbol kasih sayang dan rasa memiliki baik antar personal maupun sebagai suatu kelompok (organisasi). Pandangan yang kerap ditanam dalam membicarakan kaderisasi “baik buruknya kepemimpinan selanjutnya adalah penentu gagal atau berhasilnya kepemimpinan saat ini”. Dari penanaman inilah rasa cemas itu hadir secara manusiawi.
     Perjalanan periode serba daring jelas berdampak mengurangi nilai-nilai pengalaman atau sisi empiris kader ormawa KM FKIP. Mungkin saja kawan-kawan paham bagaimana cara mengelola administrasi seperti membuat surat undangan atau proposal, mengerti mekanisme sidang dan rapat, paham prinsip merencanakan-melakukan-mempertanggungjawabkan dalam berorganisasi, tetapi secara luas banyak dari kita yang belum begitu mengenal antar pribadi, kurang mengerti dinamika pergerakan mahasiswa yang sesungguhnya, tidak turut demonstrasi di jalanan (eh), kurang gandem dalam merekatkan hubungan anatar personal, tidak cukup kenyang dengan sensasi makan bareng di angkringan, ribut di sekretariat, menyiapkan proker sembari nugas bareng, gabut atau langsung capcus sekretariat setelah makul, rebutan printer sekre Himpunan dan DPM BEM, misohi dosen di sekretariat, gibah di warung pojok atau kantin, apalagi sensasi diusir satpam akibat batasan jam malam, dan banyak hal-hal sederhana yang kurang tercatat dalam memori ormawa periode daring.
     Turun ke perspektif lain jika sebelumnya kita merenungkan bagaimana kurangnya kader Ormawa KM FKIP periode pandemi covid-19 kurang merasakan “sisi lain” berormawa, kita juga perlu menakar bagaimana nasib keterbentukan Maba KM FKIP 2020? Otadama yang dijajah PKKMB menjadi jendela utama yang menghantarkan mindset yang terancam degradasi (menurun) lho, Gais. Secara subjektif aku sinis dengan penggeneralan sistem proses penerimaan mahasiswa baru dengan penyebutan dan konsep “PKKMB” karena jelas:
1. PKKMB merupakan konsep kaderisasi mendikbud dan pihak birokrasi kampus untuk membentuk maba yang nasionalis (tapi cuma versi negara red: semoga paham maksudku),
2. PKKMB secara tidak langsung mengikis kebebasan organ mahasiswa untuk mengenalkan dunia pergerakan yang cenderung kerap mengkritisi sistem tatanan bernegara,
3. PKKMB mempersulit gerak organ mahasiswa dalam memahamkan esensi mahasiswa itu sendiri, 
4. PKKMB hanya mendidik bagaimana jalan ringkas menjadi seorang akademisi yang sukses dengan versi IPK bagus, sopan pada dosen, taat negara, dan kaya akan segudang prestasi, 
5. Ormawa hanya diperankan sebagai (maaf) pembantu umum,
6. Monggo diteruske dewe, Lor.
     Penelusuran Minat Bakat dan Penalaran (PEMANTAPAN) dan LKMM Pradasar yang biasanya diadakan secara luring mampu menjaring bibit-bibit unggul mahasiswa setiap prodi, membentuk daya nalar kritis, mengenal diri, bisa memanajemen diri, kerja tim, dan memiliki karsa yang solid perangkatan, tentunya juga memberi bekal paradigma seputar keormawaan. Nah, dengan penyesuaian serangkaian kaderisasi berbasis daring bagaimana ketercapaian proses pembentukan mahasiswa sesuai kebutuhan dan ‘kulltur’ keprodian?
     Mendaki ke atmosfer fakultas DPM maupun BEM FKIP juga dibuatnya memutar otak lagi-lagi karena kahanan yang mengharuskan celoteh “mau ngga mau” menjadi prinsip yang harus ditegakan. Berangkat dari wacana semula ingin merintis kelas legislatif di negeri FKIP tercinteh, naas semua harus raib lalu pupus karena keadaan belum memungkinkan sehingga munculah ide Program Edukasi Legislatif (PRODUKTIF) yang jujur saja muncul di sela lamunan yang disaksikan keheningan surga inspirasi kehidupan; kamar mandi. Hehe. Tidak munafik sejauh ini kaderisasi legislator di KM Untid maupun FKIP masih terbilang rendah sehingga dampaknya secara signifikan DPM sebagai organisasi yang merepresentasikan kepentingan dan kesejahteraan seluruh lingkup (prodi/ fakultas) yang didelegasikan melalui sistem kolektif-kolegial belum cukup terasa secara optimal. Aku rasa sejauh ini kaderisasi legislatif yang masih dirasa minim karena memang pengenalan dunia kelegislatifan mahasiswa itu sendiri jauh lebih tertinggal dari pada edukasi pereksuktifan, sehingga dengan mengucap “parunten akang teteh” sejauh ini DPM secara global masih kerap kurang maksimal dalam berperan karena orang-orang di dalamnya masih didominasi manusia yang “terpaksa” memilih jalan hidup sebagai legislator. Alasannya beragam, ada yang menjadikan DPM sebagai organisasinya orang-orang yang nggak pengen gabut tapi juga ga pengen capek-capek banget, paham kan? Yas, sejauh ini DPM masih dicap sebagai lembaga yang tidak terlalu banyak peran karena prokernya selalu terbatas padahal jika ditelisik lebih dalam jadi DPM itu uaboteeee ora jamak leh! Menjadi pemikir, konseptor, stabilitator, jembatan, orang yang peka, dll sebenernya itulah bekal-bekal krusial yang harus dilekatkan pada kader-kader legislator. 
     Menengok kaderisasi eksekutif; sejauh ini tidak dipungkiri pula lagi-lagi kader pemimimpin BEM FKIP justru mengalami fase calon tunggal setiap pemira dua tahun belakangan, itupun selalu mendrama terlebih dahulu untuk memunculkan sepasang pahlawan fakultas biru nan santun santuy. Artinya, ada apa dengan kaderisasi eksekutif fakultas? Bahkan kasarnya BEM FKIP pun dari masa ke masa tidak kalah sulitnya dengan DPM FKIP dalam mencari kader militan yang siap berdedikasi benar-benar dari hati (tanpa ajakan). Ya mungkin doktrin “FKIP IS THE BEST” dan ambisi akademik IPK terjaga dan lulus cepet menjadi budaya, sehingga kader-kader ormawa FKIP cenderung merasa cukup menyudahi perjalanan hanya sampai dedikasi maksimal di himpunan. Tetapi jika boleh menjustifikasi, setelah 3 tahun menghayati dinamika perormawaan FKIP aku berani menduga akar krisisnya kader fakultas juga berangkat dari kurang berhasilnya kaderisasi taraf himpunan. Bukan tanpa sebab, jika boleh ria aku pertama kali berangkat di ormawa memulai dari peran sebagai PSDM Himaprodi PBSI kemudian lanjut meniti karir sebagai kahim PBSI 2019, artinya aku memberi nilai lemah pada kaderisasi taraf himpunan karena aku sendiri pernah menyelami hiruk pikuknya.
     Pembiasaan ormawa KM FKIP yang mengedepankan asas kekeluargaan akhirnya menjadi suatu pola yang kebablasen alias kelewatan. Pasalnya kehidupan yang serba sinergis kurang bisa ditempatkan secara bijak. Mustinya keluarga himpunan paham posisi di mana harus berkompromi dan di mana harus saling berkompetisi. Maksudku kompetisi di sini adalah persaingan bagaimana pola persaingan sukses-suksesan kaderisasi himpunan. Contoh konkret antar himpunan saling berlomba mengemas PEMANTAPAN dengan versi yang lebih merujuk kestudian lagi, mbok yao ojo ngono-ngono wae koyo sek uwes-uwes. Bisa juga menempuh langkah saingan melalui pamer-pameran Badan Semi Otonom (BSO) atau komunitas keprodian, pemberian jalur alternatif kaderisasi di luar otadama prodi, Pemantapan, LKMM-PD, membangun strategi politik mahasiswa yang lebih hidup dan dinamis, menanamkan keyakinan ketika identitas prodi mampu menduduki suatu kekuasaan fakultas (BEM/ DPM) berarti pembentukan mahasiswa prodi tersebut dinilai maksimal, dan masih banyak cara lain. 
     Mengenang perjalanan suram tahun-tahun lalu sosok Buyung, Mas Presma aset FKIP dulu sempat menggegerkan Ormawa FKIP periode 2018. Jika tidak salah mengenang, yang kuingat kala itu Buyung menempelkan selebaran di sekitaran sekretariat yang tak aku ingat narasinya tapi di situ pada intinya Buyung mengkritik habis Ormawa FKIP dengan cuitan FKIP kehilangan mahasiswa lah, FKIP banyak mahasiswa apatis lah, dan entah apalagi sampai akhirnya ormawa FKIP berhasil diinisiasi untuk duduk melingkar membicarakan kultur keapatisan (meminjam istilah Buyung saat itu) yang sudah waktunya dimusnahkan dari pergerakan KM FKIP. Pada masa itu aku belum terlalu mengenal sobatque yang ternyata kader militan EDSA yang samaan PSDM semasa aku juga menjadi PSDM di Himaprodi PBSI. Dibarengi aku yang terlalu sering bergaul dengan organ eksternal dan senior-senior asal fakultas lain akhirnya aku terbiasa dibanjiri makian betapa cupunya ormawa FKIP lah, bahkan di era 2016 katanya FKIP pernah diteriaki fakultas banci oleh salah seorang aktivis fakultas lain karena tidak turut andil di aksi KM UNTIDAR, dan masih banyak budaya lama yang masih melekat erat di memori. Pun bukan tanpa pertanggungjawaban, Buyung yang mengkritik rumah sendiri telah terbukti dedikasinya selama ada di sirkel ormawa FKIP hingga detik ini setia menjaga citra fakultas biru di peran ke-presmaan-nya, pun denganku yang kerap protes pada senior-senior PBSI akhirnya berani berangkat nyakahim dan bertahan sampai kiprah di kursi Ketum DPM FKIP sampai kini.
     Tidak, maksudku tidak mengarah bahwa kader terbaik FKIP berarti harus menjadi seperti Buyung atau Ade yang IPK sangar tapi demo ya rajin, tidak Gais. Wkwk. Tetapi maksudku aku sepenuhnya merasakan bagaimana nurani kebanyakan kawan-kawan yang menyayangkan keadaan SDM FKIP, pola pergerakan ormawa yang mungkin masih dinilai monoton, atau apalah itu. Dengan rasa-rasa yang sepadan, cobalah mulai hari ini berani memberangkatkan hati untuk mempertanggungjawabkan keresahan dengan mengambil peran lalu menuntaskan perubahan itu sendiri. Pun belakangan aku berani meyakini bahwa fakultas kita tengah naik daun dengan sistem yang mulai lebih terbentuk semakin rapih (sejak dulu emang ormawa FKIP rapih), sinergisitas antar lembaga semakin solid, DPM semakin jelas pergerakannya, BEM semakin inovatif, Himpunan semakin dinamis, pemikiran-pemikiran kritis mulai kerap tumbuh subur di forum-forum kita, dan masih banyak lagi yang sebenarnya memang sudah menjadi peningkatan kaderisasi rumah biru. Tinggal bagaimana hari-hari ke depan Ormawa FKIP menjaga konsistensi peran dan mengentaskan PR untuk menghapus jarak antara Ormawa dengan Keluarga Mahasiswa umum.

Penutup
     Aku bersyukur telah menemu banyak hal di hari-hari yang panjang selama berormawa di Fakultas Biru. Mengenal banyak dinamika yang membentuk dan menemu banyak manusia baik yang membersamai proses adalah kesan paling bermakna. Teruntuk siapapun yang akan, sedang, dan telah berjuang terima kasih karena menjadi bagian dari catatan juang ruh pergerakan hal baik. Setiap masa ada dinamikanya masing-masing dan setiap dinamika selalu menjadi saksi juang bagi masing-masing masa. Perjuangan harus dituntaskan, pengorbanan harus tetap dirawat. Doa baik teriring bagi kalian yang telah meniti banyak kisah.
Salam.
Hidup mahasiswa!

Sabtu, 18 April 2020

Mampukah Himpunan Mahasiswa Bahasa dan/ atau Sastra Indonesia Mempertahankan Diri di Tengah Pandemi?

    Berbagai wacana manis kini ubah menjadi cerita ironis, tanpa diminta; jauh dari praduga seisi dunia dikejutkan wabah corona yang entah memang bencana atau konspirasi semata. Visi misi para pengisi takhta pimpinan pelbagai organisasi sedari pimpinan pemerintahan, hingga visi misi pimpinan organisasi kemahasiswaan akankah setabuh janji para politikus yang kerap diberi sentilan cuit satire “janji hanyalah barang dagang semasa pemilihan” (?). Tidak lain tidak asing kritik yang menghujani organisasi mahasiswa dengan sebutan budak program kerja atau event organizer (EO) kini diamini oleh semesta. Segala wacana kegiatan yang serba dirancang “wah” kini telah dipertumpul keadaan. Estimasi anggaran tahunan tinggalah rencana tanpa makna, ekspektasi euforia mahasiswa bahasa dan/ atau sastra tinggalah cerita, ingin bergerak tetapi dimensi dipisahkan jarak.
    Pandemi covid-19 memicu pulangnya kebanyakan mahasiswa ke masing-masing rumah (asal) tanpa terkecuali internal fungsionaris alias pengurus-pengurus himpunan mahasiswa bahasa dan/ atau sastra Indonesia. Dengan tiadanya objek dan subjek simbiosis organisasi antar penyejahtera dengan yang disejahterakan, jelas kini kampus masing-masing kita tinggalah sekadar gedung yang merindukan hiruk pikuknya. 
    Seluruh pemimpin himpunan mahasiswa bahasa dan/ atau sastra Indonesia agaknya kini dipaksa kenyataan untuk bersikap dingin kemudian menyembunyikan kegelisahan demi menenangkan siapapun yang ia pimpin agar tetap konsisten menjaga api pada segala dedikasi di tiap organisasi. Mungkin saja ada pemimpin yang benar-benar segera menginovasi gerakan, ada yang masih merancang, bahkan ada juga yang entah karena apa hingga kini masih belum melakukan apa-apa (eh). Semesta mendukungku untuk angkat topi kepada rekan-rekan penggerak organisasi yang berhasil memberangkatkan diri untuk melakukan segala bentuk aksi sosial di tengah maraknya wabah covid-19 (apapun aksi sosialnya) baik secara gerak kolektif maupun secara keorganisasian formal. 
   Garis merah harus membawahi keterangan “Pandemi Covid-19”. Keadaan mewabahnya virus ini tentu bukanlah suatu dinamika yang dikehendaki masing-masing pengurus hima, kahim atau ketum, koor program studi, jajaran birokrasi fakultas serta universitas khususon rektor, apalagi emak-emak kantin kampus. Dalam hal ini mau tidak mau kita harus mengamini bahwasanya memang manusia hanya bisa berencana, selebihnya semesta yang menentukan banyak hal. Apa yang menjadi rancangan di awal tak berujung manis, tersandung keadaan miris. Di tengah keadaan demikian, benarkah para pengisi struktur pengurus hima sedang pening merenungkan beban moral atas masing-masing jabatannya? Atau tidak sedikit dari mereka (para pengurus hima) sedang marah dengan semesta karena sebagian besar rancangan program kerjanya tersandung wabah? Akankah para aktivis yang kerap dihujani cibiran “budak proker” alias EO tetap mampu menjaga eksistensi organisasi di masa seperti ini? Terparahnya, akankah budak proker kini akan berubah menjadi sebatas “budak medsos” yang kontribusinya hanya bermain desain bingo untuk ditandai lingkar-lingkar, unggah dan menandai akun instagram hima, lalu diunggah ulang alias repost. Haha akankah tetap segabut itu arah gerak himpunan mahasiswa saat ini? 
   Anggaran yang semestinya digunakan untuk kepentingan penyejahteraan mahasiswa tetapi belum diresap melalui kegiatan hingga detik ini, sudahkah teman-teman pertanyakan nasib keuangan ini ke masing-masing orang tua di kampus larinya ke mana atau sedang terjaga oleh tangan siapa? Jika teman-teman saat ini tengah merenungkan nasib seminar keren yang sudah dirancang di awal, benarkah seminar masih menjadi gong program kerja hima yang paling memberi dampak dan meninggalkan makna? Tidakkah teman-teman berpikir bahwa di era saat ini secara fulgar kita patut mengakui bahwa seminar hanyalah program di mana mahasiswa dihadapkan dengan orang yang dianggap “mumpuni”, duduk tak sama rendah berdiri tak sama tinggi (karena pemateri sudah pasti umumnya dipanggungkan), mayoritas peserta lebih berhasrat untuk berswafoto demi konten media sosial, merunduk saat pemateri tengah berdalil bukan karena khusyuk menyimak tetapi karena sedang “disambil” asik dengan gawai masing-masing, menerima kudapan, menerima sertifikat, entah substansi apa yang diserap. Lalu, di mana titik kepatutan rekan-rekan untuk menyedihkan seminar yang gagal terselenggara? 
   Di sisi lain mayoritas hima juga memiliki bidang-bidang penyaluran minat dan bakat baik dengan kemasan lomba seperti ajang kompetisi baca tulis puisi atau essay, pelatihan-pelatihan seperti komunitas teater prodi, komunitas debat, kanal jurnalistik, dan lain sebagainya. Dengan adanya dampak pandemi, sudahkah teman-teman kehilangan akal untuk merealisasikan tanggungan moral hima dalam menyejahterakan dan membentuk mahasiswa secara umum sejenis ini? 
  Trobosan-trobosan yang paling relevan untuk keadaan masing-masing hima tentu hanya teman-teman sendiri yang dapat memformulasikannya kemudian menyimpulkannya dan mengaktualisasikan. Tetapi jika boleh bersaran, mungkin sebaiknya kuatkan terlebih dahulu mengenai pemahaman esensi himpunan mahasiswa adalah wadah penyejahtera mahasiswa secara meluas, bukan sekadar organisasi yang berisi hal-hal elitis yang segala kepentingannya hanya mengarah pada kebaikan dan kesenangan manusia-manusia yang ada di dalamnya saja (pengurus). Apapun keadaan dan tantangannya, rekan-rekan sendiri yang sudah memilih untuk berorganisasi. Memilih berkecimpung di organisasi artinya rekan-rekan memilih untuk hidup selalu ada di bawah masalah-masalah yang selalu bermunculan bukan? Nah, tentunya apapun yang menjadi kendala di organisasi harusnya setiap individu berhak dan wajib menyadari peranan diri. Grup whatsapp yang hanya ditanggapi beberapa manusia, rupanya ini menjadi penyakit bagi rumah tangga kebanyakan hima. Sibuk dengan masing-masing tugas-tugas daring tentu etisnya ini menjadi batasan kendala kehidupan pribadi sebagai mahasiswa seutuhnya bukan alasan yang patut dilempar sebagai kendala dalam melakukan peran di organisasi. Artinya, “profesionalitas” menjadi hal yang patut kita pertanyakan dalm hal ini. Manajemen diri dan pengelolaan waktu adalah tuntutan yang semestinya sudah menjadi keahlian organisatoris sejati. Bagaimana bisa memimpin manusia lain jika kepentingan pribadi belum bisa ditata sendiri? 
     Pelbagai masalah-masalah lain tentu akan menjadi beban pikir tersendiri bagi pemimpin yang menyadari bahwa dirinya memang seorang pemimpin. Kebaikan dan keberhasilan suatu organisasi ialah milik “bersama”, tapi buruk dan gagalnya organisasi adalah kesalahan utama bagi “pemimpinnya”. Berysukurlah siapapun yang kini tengah menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, bidang/ divisi/ departemen, dan bagi himpunan mahasiswanya. Mengutip ujaran Tan “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.”, sepatutnya kita yakin bahwa benang merah dari pendewasaan organisasi tidak lain hanya bersumber dari masalah-masalah yang dilalui sebagai rangkain proses. 
   Setelah pondasi-pondasi ini kokoh sebagai kuda-kuda kaki para pendedikasi himpunan mahasiswa, kemudian meniliklah ke dimensi yang konteksnya lebih luas lagi. Selain keharusan sebagaimana mestinya pemimpin sejati harus tetap mengendalikan kemampuan di tengah kenyataan, kembalilah untuk merefleksi perihal apa yang bisa kita beri sebagai kebermanfaatan melalui organisasi? Benarkah keadaan saat ini akan menekuk lututkan iktikad pengabdian rekan-rekan? Covid-19 memaksa setiap insan untuk bertahan pada perkembangan era, salah satunya ialah tuntutan yang mengharuskan kehidupan serba modern dan berpacu pada keberadaan teknologi masa kini; tanpa terkecuali bagi himpunan mahasiswa dan organisatoris sejati. Mungkin dengan adanya kemajuan teknologi rekan-rekan bisa memanfaatkannya untuk alternatif program-program pelatihan, diskusi daring seperti konsep yang tengah saya inisiasi belakangan ini, pemuatan karya ke blog atau website, unggah musikalisasi puisi mahasiswa umum melalui instagram atau youtube, dan lain sebagainya. Sedangkan peran yang berkaitan dengan pergerakan kampus mungkin rekan-rekan hima mulai menginisiasi pengkritisan kebijakan kampus masing-masing seperti perihal transparansi alokasi UKT semester ini, mengadakan tuntutan toleransi akademik, dan hal-hal lain yang sekiranya berdampak besar pada kesejahteraan mahasiswa umum yang rekan-rekan himpun. 
    Apapun yang terjadi, yang jelas badai hanya akan menyisakan pohon tinggi yang akarnya kuat tertanan. Artinya di lain sisi setiap masa ada masing-masing dinamika, setiap insan yang memilih jalan berkceimpung di dunia organisasi berarti ia siap menjadi individu yang selalu pening dan dihadapkan berbagai masalah lalu diharuskan tetap bertahan di segala keadaan. Organisasi yang dihujani masalah akan membentuk organisator sebagai individu-individu yang tangguh. Selamat mencari jalan, Seperjuangan. Tetaplah menjadi berguna untuk makna abadi, sebab mati bukan hanya milik si tua. Teruslah berproses untuk “memberi” jangan melulu berorganisasi sekadar untuk “mencari”. Terakhir; setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.

Panjang umur perjuangan!

Rabu, 30 Oktober 2019

Keterbentukkan Pribadi Anak ditentukan Kedekatan dengan Sosok Ibu

(Revitalisasi Pendidikan Informal sebagai Karakterisasi Terpenting dalam Hidup)
Oleh: Ade Safri Fitria
Pendidikan merupakan upaya terstruktur yang dilakukan secara sengaja dalam rangka memanusiakan manusia muda. Dengan kata lain, pendidikan berarti sebuah proses karakterisasi atau proses pembentukan kepribadian seorang manusia. Dalam Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) pasal 1 menjelaskan “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Sedangkan tujuan dari pendidikan memiliki tiga substansi yakni pembentukkan afeksi (sikap), kognisi (pengetahuan), dan psikomotor (keterampilan).

Selain pendefinisian tentang pendidikan, UU RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS pasal 13 ayat (1) juga menyebutkan tentang ruang pendidikan dengan redaksi “Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.” Pendidikan formal mencakup pendidikan dasar, menengah serta pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/ atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Sedangkan kegiatan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.



Keluarga sebagai kanal pendidikan informal dapat didefinisikan sebagai suatu organisasi atau satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam tatanan masyarakat. Tanpa dijabarkan secara rinci, tentu khalayak umum paham bahwa di dalam komponen keluarga seorang lelaki berperan sebagai subjek dengan istilah seorang “ayah” yang notabene berfungsi selayaknya kepala dan juga topangan rumah tangga khususnya dalam hal finansial (nafkah), sedangkan perempuan berperan sebagai subjek (ibu) yang menentukan keterbentukkan afeksi (sikap) dari generasi atau seorang anak dalam hal ini. Itu sebabnya peran seorang lelaki dengan perempuan sebenarnya tidak ada dominasi subjek mana yang bertugas paling berat dalam tatanan sosial khususnya untuk konteks keluarga, karena keduanya memiliki koridor dan bobot atas masing-masing tanggungan baik secara moril maupun materil. Sesuai dengan penjabaran substansi pendidikan di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, keluarga memiliki urgensi sebagai kanal pendidikan informal yang berposisi sebagai pendidikan terdekat dan paling berpengaruh terhadap pembentukkan suatu kepribadian seorang anak.

Konsep keseimbangan peran antara lelaki dengan perempuan dianalogikan oleh Bung Karno dengan gagasan yang menyatakan “laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” Artinya keluarga sebagai bentuk suatu organisasi haruslah mengedepankan kesetaraan peran antara sosok ayah dan ibu dengan porsi yang seadil-adilnya demi tercapainya tujuan dari keluarga itu sendiri. Terlepas dari bahasan menyoal kesetaraan peran, Bung Karno juga mengamini bahwa masalah perempuan berarti masalah negara. Tentu saja hal ini memiliki korelasi kuat dengan peranan perempuan yang secara tanggung jawab moril paling mempengaruhi keterbentukan pribadi seorang anak karena memang sejatinya ibu ialah subjek terdekat bagi seorang anak pada umumnya.


Sembilan bulan seorang Ibu pada umumnya mengandung janin bakal reinkarnasi biologis. Tanpa berpenghitung letih serta pengorbanan, jiwa dan hatinya begitu luas untuk merelakan raganya diisi nyawa baru. Menjaga penuh kasih membesarkan penuh cinta. Berlaku adil pada tubuh demi penjagaan keberadaan buah hati dalam kandungan memang bukan perkara gampang.

Keluarga menjadi ruang pendidikan utama dalam proses pembentukkan karakter seorang anak sebelum dunia luar; baik kelas-kelas pendidikan formal atau lingkungan sosial mempengaruhi proses penentuan jati dirinya. Ibu yang baik serta bijaksana pasti interaktif dengan buah hatinya sedari si bayi berada dalam kandungan. Membiasakan interaksi seolah sedang berbincang dengan bayi dalam kandungan, memperdengarkan musik di muka perut ibu untuk jabang bayi, mengelus saat bayi menendang perut ibu, dan masih banyak lagi pembiasaan yang bisa mempengaruhi keterbentukkan karakter serta emosional anak sejak dari kandungan.

Penelitian-penelitian ilmiah menyepakati bahwa bayi yang masih berada di dalam kandungan sebenarnya sudah memiliki daya reseptif yang cukup baik melalui indera pendengaran. Itu sebabnya suara dari lingkungan sekitar ibu akan menentukan tingkat kepekaan anak. Pembiasaan pendidikan audio oleh seorang ibu terhadap anak akan membentuk kegemaran tersendiri bagi anak itu sendiri ketika dewasa. Misalnya seorang ibu religius akan memperdengarkan lantunan bacaan ayat suci Al-Qur’an atau shalawat secara tidak langsung akan terekam memori bayi kemudian secara berkesinambungan asupan memorinya saat dikandung ibu akan mengarahkan pendewasaan dirinya sebagai pribadi yang menggemari suara yang bersifat religius, begitupun dengan bayi yang diperdengarkan instrumen-intrumen klasik, lagu-lagu pop, rock, dan lain sebagainya.

Selain penentuan kegemaran, apa yang didengar bayi saat dikandung sang ibu seperti ajakan interaksi yang komunikatif dengan peragaan seolah-olah ibu sedang berdialog dengan bayi dalam kandungan juga akan membiasakan seorang anak sebagai pribadi yang kelak terbiasa komunikatif dengan lingkungan sekitarnya dan cenderung menjadi pribadi yang terbuka. Dengan demikian anak juga akan lebih mudah dan lebih cepat menguasai keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) karena sudah dibiasakan sejak berada dalam kandungan ibu. Kosa kata yang dikuasai tentu akan lebih banyak dibandingkan anak yang tidak terbiasa diajak sang ibu untuk berkomunikasi saat masih dikandung.

Selain pembentukan keterampilan berbahasa anak, pola kepedulian seorang ibu terhadap kandungan juga mempengaruhi mutu kesehataan jiwa raga sang anak seperti pola hidup sehat selama hamil akan menentukan banyak aspek kesehatan sang anak. Pembentukkan emosional anak bisa dilakukan dengan cara kebiasaan mengelus bagian perut yang ditendang anak agar menstimulus bayi bahwa setiap tindak lakunya direspon sang ibu kemudian konsep pembiasaan ini akan membekali afeksi anak agar mendewasa menjadi pribadi yang kaya akan empati atau kepedulian terhadap sekitarnya. Jadi, peran kasih ibu yang tergambar melalui kedekatan dirinya dengan bayi saat dalam kandungan akan membekali memori anak untuk menjadi pribadi yang kuat keterampilan berbahasa melalui pendidikan audio, membekali selera kegemaran, membiasakan anak sebagai seseorang yang interaktif, membentuk emosional yang baik dengan sentuhan responsif ketika bayi menendang perut ibu, dan mungkin masih ada beberapa manfaat pendidikan informal ibu terhadap anak saat mengandung.


Terlepas dari pendidikan prenatal (sebelum kelahiran), ibu juga tentu memiliki peran-peran di dalam keseharian anak hingga terbentuklah suatu capaian pendewasaan yang dirasa matang bagi seorang anak. Wawasan dan/ atau taraf pendidikan perempuan menentukan kualitas generasi. Esensi daripada pendidikan ialah mempertajam logika dan memperhalus rasa. Itu sebabnya mengapa taraf pendidikan ibu akan mencetuskan konsep bagaimana pola asuh yang baik untuk mendewasakan seorang anak. Anak-anak yang baik hanya akan terlahir dari rahim dan didewasakan oleh jiwa perempuan yang baik pula. Maksudnya setiap pengetahuan baik teoritis maupun empiris yang dimiliki seorang perempuan akan menentukan bagaimana keterampilan diri dalam mendidik darah dagingnya sendiri.

Pada akhirnya bagaimana keterbentukkan anak akan ditentukan oleh kedekatan ia dengan ibunya. Baik sejak dari dalam kandungan, pasca lahir, dan kapanpun. Pribadi perempuan yang selalu mengajak anak untuk terbuka tentu akan menumbuhkan kualitas anak yang senantiasa hidup penuh kejujuran dan keterbukaan. Tauladan ibu juga akan sangat menentukan pemahaman anak dalam menentukan sikap apa yang sepantasnya ditiru oleh pribadinya. Ibu-ibu yang terbiasa mencontohkan pola hidup bersih akan mendoktrin anaknya untuk bernaluri mencintai segala sesuatu yang bersih dan rapih pula, pun sebaliknya. Pepatah mengatakan “buah takkan jatuh jauh dari pohonnya” dan hal ini dibuktikan oleh realitas yang mengamini bahwa watak (bukan sikap) seorang ibu akan sangat kental diturunkan pada kepribadian anaknya. Ibu yang gagal mencetuskan iklim harmonis dan kenyamanan terhadap anak biasanya memicu ketertekanan sendiri bagi hidup seorang anak, dari ketertekanan inilah yang pada akhirnya menuntut anak untuk hidup menjadi sebagai seorang pemberontak dan sangat sukar menerima nasehat atau keras kepala, bahkan sangat membuka kemungkinan bahwa anak akan menjadi pribadi yang sangat tertutup dan apatis terhadap lingkungan sekitarnya.

Rabu, 02 Oktober 2019

Kritik Sastra pada Puisi "Pada Suatu Hari Nanti" Karya Sapardi Djoko Damono


Kritik Sastra pada Puisi “Pada Suatu Hari Nanti”
Karya Sapardi Djoko Damono
Disusun oleh Ade Safri Fitria
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Tidar

A.    Parafrase
Pada suatu hari nanti. Jasadku tak akan ada lagi. Tapi dalam bait-bait sajak ini. Kau takkan kurelakan sendiri. Pada suatu hari nanti. Suaraku tak terdengar lagi. Tapi di antara larik-larik sajak ini. Kau akan tetap kusiasati. Pada suatu hari nanti. Impianku pun tak dikenal lagi. Namun di sela-sela huruf sajak ini. Kau takkan letih-letihnya kucari.
Karya: Sapardi Djoko Damono

B.     Orientasi
Kritik sastra pada puisi yang berjudul “Pada Suatu Hari Nanti” karya Sapardi Djoko Damono (SDD) bisa menggunakan pisau analisis orientasi objektif. Orientasi objektif merupakan sudut pandang yang fokus pada sebuah karya sastra sebagai objek atau pusat analisis atau kajian guna memahami maksud yang dapat ditafsirkan dari karya sastra itu sendiri. Puisi SDD yang berjudul “Pada Suatu Hari Nanti” memiliki kekhasan diksi yang sederhana dan menggambarkan maksud pengarang secara tertuang penuh dalam simbol-simbol yang digunakan sebagai analogi pendukung tema kesetiaan sehingga orientasi objektif dirasa tepat untuk menjadi pisau analisis kritik sastra pada satu karya ini. Berikut adalah penafsiran yang dapat dijabarkan dari puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Pada Suatu Hari Nanti”.
1.      Tema
Puisi “Pada Suatu Hari Nanti” karya Sapardi Djoko Damono (SDD) mempunyai tema tentang ‘kesetiaan’. Gambaran kesetian ini dicerminkan terhadap sosok “Kau” yang bisa ditafsirkan sebagai para pembaca, meskipun subjek “Aku” di dalam puisi ini tidak ada, tetapi penyair akan tetap setia ada bagi pembaca karya-karyanya.

2.      Tipografi
Puisi ‘Pada Suatu Hari Nanti` karya SDD bertipografi rata kiri dan diberi kemasan wajah sederhana untuk memperkuat makna yang hendak disampaikan yaitu tentang kesetiaan yang tercermin dalam kesederhaan ketulusan.

3. Pilihan Kata (Diksi)
Karya SDD satu ini menggunakan pilihan kata (diksi) konkret. Kata kongkret adalah kata-kata yang jika dilihat secara denotatif sama, tetapi secara konotatif tidak sama, bergantung pada situasi dan kondisi pemakainya. Atau dengan kata lain, kata-kata yang digunakan dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. Seperti pengimajian, kata yang dikongkretkan juga erat hubungannya dengan penggunaan kiasan dan lambang.
Pada puisi ini contoh kata kongkret terdapat pada bait:
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari
Penyair mengiaskan bahwa ‘kehidupan’ itu dianalogikan dengan sela-sela huruf pada kata-kata dalam sajak, kemudian “kau takkan letih-letihnya kucari” berarti penyair takkan pernah berhenti untuk mencari tujuan hidupnya.

3.      Majas
Pada puisi ini hanya terdapat majas metafora. Metafora adalah bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak menggunakan kata-kata perbandingan.Metafora itu melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain (Becker, 1978:317).

Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari
Pada kata-kata dalam bait di atas menggunakan majas metafora karena mengumpamakan sesuatu dengan bait, larik, huruf, dan sajak.

4.      Amanat
Amanat adalah pesan yang akan disampaikan oleh penyair melalui sebuah karya sastra. Amanat dari puisi ini adalah bahwa penyair ingin menyampaikan kesetiaannya kepada pembaca walaupun ia sudah tidak ada, pembaca tak perlu sedih karena penyair tetap setia dan tetap bisa menemani pembaca dengan karya-karyanya.

5.      Perasaan
Perasaan di dalam puisi “Pada Suatu Hari Nanti” yakni sedih karena penyair menyadari bahwa cepat atau lambat manusia pasti akan menutup usia (meninggal), tetapi penyair berjanji akan tetap setia pada para pembaca melalui keabadian segala karyanya.

6.      Citraan
Pengimajian atau pencitraan adalah suatu kata atau kelompok kata yang digunakan untuk mennggunakan kembali kesan-kesan panca indera dalam jiwa pembaca. Berikut beberapa larik citraan dalam puisi “Pada Suatu Hari Nanti”.
Jasadku tak akan ada lagi               (penglihatan)
Suaraku tak terdengar lagi              (pendengaran)
Kau takkan letih-letihnya kucari     (penglihatan)

C.    Teori Sastra
Teori yang digunakan untuk menganalisis puisi “Pada Suatu Hari Nanti” karya Sapardi Djoko Damono yakni Teori Psikoanalisis Sastra. Teori sastra psikoanalisis menganggap bahwa karya sastra berkedudukan sebagai symptom (gejala) dari penyairnya. Dalam pasien histeria gejalanya muncul dalam bentuk gangguan-gangguan fisik, sedangkan dalam diri sastrawan gejalanya muncul dalam bentuk karya yang kreatif.
Akan tetapi harus diingat, bahwa pencerminan kejiwaan penyair berlangsung secara tanpa disadari oleh si penyair itu sendiri dan sering kali dalam bentuk yang sudah terdistorsi, seperti halnya yang terjadi dengan mimpi. Dengan kata lain, ketaksadaran penyair bekerja melalui aktivitas penciptaan puisinya. Jadi, karya sastra sebenarnya merupakan pemenuhan secara tersembunyi atas hasrat penyairnya yang terkekang (terekspresi) dalam ketidaksadaran. Berikut beberapa simbol puisi yang dapat ditafsir sebagai bentuk gejala psikis penyair yang termuat dalam karyanya.

Pada Suatu Hari Nanti
Karya: Sapardi Djoko Damono

Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari

Bait I

Perenungan penyair yang khawatir pada kepastian tutup usianya, tetapi penyair berjanji akan setia untuk tetap menemani para pembacanya melalui keabadian karya-karyanya.


Bait II
Keniatan hati penyair yang akan senantiasa setia untuk tetap menemani kesunyian para pembaca karyanya.

Bait III
Kesetiaan penyair untuk tetap selalu menjaga keberadaan para pembaca di dalam keabadian karya-karyanya.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Pagar Merah Mahasiswa Bintang Banteng



Tentang hari-hari yang begitu singkat, sejujurnya hati belum sudi untuk mengubur.

Tak salah memang hal terberat dalam hidup adalah mengikhlaskan.
Orang-orang yang akan tertawa bersamaku masih begitu banyak tetapi yang membersamai tangisku satu persatu akan tersekat jarak dan ruang. 

Aku takut sekali pada caci maki sunyi.
Lelahnya petualangan takkan lagi tergenapi kawan seperjalanan. 

Pencarian belum usai tetapi romantisme akan lekas dicerai.
Cumbu pada mulut botol air yang menenangkan bak minuman surga, cerutu yang menjadi kekasih para kutu buku, hisapan zat pelayang imaji, orgasme dua birahi anakan puisi, pendebatan kontemplasi metafisik antara hamba dengan Tuhannya, kemudian apa lagi?
Ah begitu banyak kesuraman yang akan dirindukan.

Dosa pahala menjadi bahasan rahasia paling rahasia,
Kemanusiaan menjadi hal yang didewakan.

Teruntuk kalian yang aku maksud, terima kasih telah menjadi Bapak dari ovum persajakan tepi selangkangan kehidupan.

Bir, rokok, cumbu bibir, sepertubuhan, narkoba, bincangan malam yang panjang, wajah kusut tak mandi seharian dilanjut laju kuliah di hari kemudian, otak sakau yang mengkuhumi diskusi kelas, hujatan pada intelektualitas dosen beserta metode ajarnya.
Sungguh, kita mahasiswa najis di bilik kiri bendera merah di pusara bintang tunggal.

Berkedok koleksi literasi, kita merasuki nadi-nadi dungu yang hidupnya tak berkiblat.
Semoga mereka tak tersesat, biar kita yang menetap pada gelar mahasiswa bangsat.

Selasa, 21 Mei 2019

Renungan dari Ibu Kota Sampai ke Kosan

Gambar Bernyawa di Dinding Kamar Kosku


PKI diduga hidup kembali
Mahasiswa kian beroposisi dengan pemerintah
Pendaratan peluru dan bakar ban sana-sini
Profokator mulai pasang taring cari mangsa pada bangsanya sendiri;
PERSETAN!

Dapat dipastikan benih sinisme pada kaum Thionghoa akan kembali ditebar
Padahal Gus Dur telah memperjuangkan perdamaian dalam hal ini, dulu.
Persatuan kian terancam padahal Tan Malaka telah menggagas sistem Republik untuk negeri ini, dulu. 

Kemerdekaan kembali dijajah bangsa sendiri padahal Bung Karno telah memproklamasikan kebebasan bangsa, dulu.
Perempuan kian tak sadar peran dibuatnya terlena kenyamanan hingga tak peduli pada marwah perjuangan wanita yang didalangi pula oleh Ibu Kartini, dulu. 

Indonesia akan semakin porak poranda dibuat bangsanya sendiri. 

Selamat berjuang Bapak Jokowi. 

Bapak adalah reinkarnasi semua penggede Indonesia yang jiwanya terakulturasi dalam satu raga Bapak. 

Panjang umur perdjoeangan!



Magelang, 22 Mei 2019.

Minggu, 19 Mei 2019

Kecil Kampusku Besar Tuntutan Dewasanya



(Kado Orasi Diksi di Hari Kebangkitan Nasional dari Ade Safri Fitria)


Sedari 2014 kampusku beralih status dari luar negeri (swasta) menjadi kampus negeri. Hingga 2019, rasanya lima tahun bukanlah golongan usia kampus negeri yang layak dikata dewasa. Analoginya rumahku yang satu ini bak balita yang sedang meraba banyak hal menyoal kehidupan, logika dan nuraninya tentu belum cukup umur untuk menadang dinamika dunia dewasa yang membentur. Bapak Republik, Tan Malaka menyeletuk ujaran yang sangat tidak asing di telinga para kaum muda khususnya mahasiswa “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk” sebagai belati juang yang harus ditanam mengakar dalam mindset kaula muda wabilkhusus mahasiswa itu sendiri yang dianggap sebagai agen perubahan, katanya. Naasnya benturan di kampus kecilku ini tidak menjamin keterbentukan justru meninabobokan. Miris.

Belakangan Keluarga Mahasiswa di kampus beralmamater jas kuning di tengah hiruk pikuk Kota Sejuta Bunga, Magelang ini dibuat pusing tujuh keliling. Serangan fajar pasca pemperbaharuan jajaran petinggi kampus mulai menyulut kandang kenyamanan. Kebijakan menghantam berbagai lini dengan atas nama perubahan yang katanya akselerasi, cih! Berikut beberapa problematika yang ada di kampus mungil yang dipaksa dewasa.
  1. Mulai dari gonjang-ganjing kalender akademik saat awal tahun yang memperdebatkan libur panjang,
  2. Syarat pengambilan SKS berdasarkan capaian IPK,
  3. SIBITA dan E-LITA yang entah bagaimana kabarnya dan dipastikan belum banyak mahasiswa mengerti atau bahkan sekadar mendengar mengenai dua sistem akademik ini,
  4. Almamater mahasiswa 2018 yang ternyata sembrono ukurannya,
  5. Kartu Tanda Mahasiswa 2018 yang juga entah apa kabar pemerataan pengadaannya,
  6. Sistem pendanaan kebutuhan organisasi kemahasiswaan yang semakin ruwet hingga kantong mahasiswa-mahasiswa di dalamnya kerap diperas atas nama pengorbanan,
  7. Peminjaman ruang yang kian dipersulit pula,
  8. Pengadaan inventaris Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang diulur-ulur melulu,
  9. Fasilitas kampus yang belum cukup memadai seperti ruang kelas yang tidak sesuai keberanian tampungan kuantitas kepala mahasiswa yang semakin bombastis, wifi yang hilang-hilangan layaknya doi, serta masih banyak sarana prasarana pendukung perkuliahan yang belum cukup dikata mendukung,
  10. Kebijakan pembatasan jam malam yang pemformulasiannya tidak melibatkan elemen mahasiswa apalagi nihil penawaran solusi terhadap segala bentuk dampaknya,
  11. Pola pengembangan sumber daya mahasiswa yang semakin tak tentu arahnya,
  12. Minimnya penyediaan kesekretariatan organisasi mahasiswa,Hingga UKT calon mahasiswa baru 2019 yang justru begitu mendongak atas nama kebutuhan nadi pembangunan tanpa mempertimbangkan kondisi iklim kampus yang sejatinya masih dekat dengan keadaan latarbelakang perekonomian mahasiswa secara mayoritas menengah bawah, dan masih banyak hal yang belum bisa diilustrasikan apalagi untuk didefinisikan.
Memang begitu penting proses suatu perubahan itu muncul, bahkan saya pribadi selalu mengaminkan adanya sebuah perubahan dalam konteks apapun selagi itu semua atas nama kebaikan. Tetapi kebaikan di sini harus diartikan sebagai kebaikan bersama bukan sepihak saja. Saya paham betul orientasi kampus kecil ini mulai dituntun untuk lekas menjelma langkah lampah kaki manusia dewasa, sayangnya segala bentuk keadaan di sini masih banyak cacat pincangnya. Terbukti dengan kurangnya keterbukaan jajaran pemimpin yang belum turut melibatkan jiwa raga mahasiswa yang seharusnya dianggap sebagai warga kampus yang akan menjadi pencicip segala kebijakan kampus, juga. Sistem yang kian otoriter mengingatkan ini kepala pada dimensi rezim orde baru dimana mahasiswa selaku kaum muda dibungkam melalui banyak cara hingga langkah juangnya terpangkas.

Terlepas dari sinisme terhadap birokrat, pun keadaan mahasiswa sendiri harus dikritisi pula. Sudah sejauh ini kampus merangkak dengan status kenegerian, tetapi sumber daya mahasiswa yang ada masih banyak yang belum memahami esensi apa itu mahasiswa. Budaya yang masih membabibuta adalah rasa nyaman pada pola mahasiswa kuliah pulang-kuliah pulang (kupu-kupu). Masih sangat jarang ada mahasiswa yang tulus menjadi kaum kuliah rapat-kuliah rapat (kura-kura). Dapat dihitung jari berapa jumlah mahasiswa yang dengan konyolnya berkenan memberangkatkan diri dengan berbagai motif mengisi ruang fungsionaris organisasi mahasiswa (ormawa) baik yang pemerintahan seperti DPM, BEM di tingkat universitas maupun fakultas serta Himpunan baik di tingkat jurusan maupun program studi, dan organisasi mahasiswa yang non pemerintahan seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Organisasi Mahasiswa Daerah (ORMADA), dan komunitas pengembangan. Saya sebut konyol karena kaum seperti merekalah yang menjadi ikan pelawan arus di saat ikan lainnya secara mayoritas memilih tenang tanpa mendekat pada ombak. Namun, perlu kita digarisbawahi pula pada kenyataan yang ada; mahasiswa yang andil di dalam struktural organisasi mahasiswa pun tidak sepenuhnya semua paham atas peranan daripada tupoksinya. Masih begitu banyak pula kaum apatis yang berkedok di balik jubah aktivis. Pun belum tentu mahasiswa yang tidak berkecimpung dalam ranah aktivisme justru mahasiswa ramutu yang tidak membawa kebermanfaatan dalam kepeduliannya.

Seluruh fungsionaris entah itu organisatoris, maupun aktivis hendaknya lebih rajin berkontemplasi sudah sejauh mana mereka berjuang, sudah sebesar apa hal yang telah atau sedang, juga akan diperjuangkan. Apakah masih sebatas menyandang status event organizer (EO)? Atau sudah berani lantang melawan kebungkaman dan menyuarakan kebenaran? Ada banyak sekali PR mahasiswa sendiri. Beberapa di antaranya menyadarkan diri bahwa budaya lingkungan kampus harusnya diisi kerumunan mahasiswa yang candu dalam bahasan dialektis, menanaman diskusi sebagai pangan pokok harian, menjadikan bacaan sebagai hidangan penunjang keterbentukkan, meminimalisir kedunguan manusia yang diperbudak telepon pintar semacam candu game yang mendukung sikap induvidualis hingga merambah sebagai benih antipati terhadap kerumunan sosial sesama mahasiswa, dan masih banyak lagi yang semestinya dipahamkan.

Sungguh betapapun banyak hal yang harus diuraikan, begitu banyak hak yang dirasa semestinya diperjuangkan, dan juga begitu banyak kepincangan tatanan sistem yang wajib diseimbangkan. Mahasiswa dalam arti yang seluas-luasnya, seyogyanya mereka memahami bahwa yang harus mereka musuhi adalah ketakutan atau kegelisahan dari kebungkaman perjuangan, sedang yang semestinya diagungkan sebagai kekuatan adalah persatuan atas nama keresahan bersama, bukan lagi kompetisi eksistensi diri maupun organisasi yang semestinya dijadikan prinsip nurani. Sinisme antar sesama mahasiswa sudah semestinya dipangkas dari dimensi kampus yang sedang melatah ini, karena yang mestinya dilawan bukanlah peperangan reputasi eksistensi. Sesuai dengan hari penulisan opini ini, Hari Kebangkitan Nasional sangat tepat menjadi momen perenungan mahasiswa kampus kecil yang besar tuntutan dewasanya; dalam membaca berbagai kebobrokan iklim kampus kuning di Kota Sejuta Bunga ini.

Sudah semestinya seluruh mahasiswa Universitas Tidar tanpa terkecuali, menghayati Hari Kebangkitan Nasional dengan implementasi kebangkitan perjuangan kaum muda sesuai dengan masa dan masing-masing caranya. Ada banyak keresahan yang seharusnya dimengerti dampak jangka panjangnya apabila budaya otoriterianisme birokrat dan sinisme di kalangan sesama mahasiswa dibiarkan mewabah begitu saja di dalam kampus ini. Sengaja yang diangkat bukan perkara penindasan di luar seperti perampasan HAM apa saja yang harus diperjuangkan, sebab kembali pada sekian belas problematika yang menjadi sampel akan PR kampus ini menunjukkan bahwa ada banyak sekali pembenahan internal sumber daya mahasiswa yang semestinya ditata sedemikian rupa terlebih dahulu mulai dari penyadaran personal atas esensi mahasiswa itu sendiri yang selayaknya selalu dekat dan akrab dengan perjuangan-perjuangan kebenaran beserta keseimbangan kehidupan, karena itu semua merupakan tanggungjawab primer seorang pemuda yang berpengetahuan.

Semoga lekas terbangun dari ketertiduranmu, kampus kecilku yang besar tuntutan dewasanya, UNTIDAR Terkasih.

Panjang umur perjuangan!




Magelang, 20 Mei 2019.
Yang selalu merenungkan kepincangan kampus, ASF.