Jumat, 03 November 2023

Sejarah Logo SMA Negeri 1 Bumiayu





         Logo SMA Negeri 1 Bumiayu dicetuskan oleh Bapak Abdul Rochim, B.A setelah SMA PEMDA diresmikan menjadi SMA Negeri 1 Bumiayu pada 5 November 1980. Pencetusan logo ini murni sebagai buah pikir dan kreatifitas Bapak Rochim sendiri yang saat itu tengah menjadi guru di SMA Negeri 1 Bumiayu lahiran 17 Agustus 1950. Bapak Abdul Rochim memiliki konsentrasi studi khusus geografi, tetapi selama menjadi guru di SMA Negeri 1 Bumiayu beliau juga mengampu mata pelajaran lain seperti seni rupa, sosiologi, antropologi, oseanografi, dan stenografi.

 Saat Bapak Abdul Rochim menjadi pembina OSIS SMA Negeri 1 Bumiayu yang pertama, Bapak Machali Ali Soedjono, B.A. sebagai kepala sekolah saat itu menugaskan beliau untuk menyusun rancangan logo sekolah. Kemudian Bapak Rochim menyusun rancangan logo semalaman membuat sketsanya dengan media cat air dan pagi harinya rancangan logo dirapatkan bersama kepala sekolah dan dewan guru. Dalam rapat tersebut pemaparan rancangan logo SMA Negeri 1 Bumiayu beserta filosofi yang disampaikan Bapak Rochim diterima dan ditetapkan sebagai logo resmi sekolah. Berikut filosofi logo SMA Negeri 1 Bumiayu.

                                        Logo SMA Negeri 1 Bumiayu yang pertama kali dibuat

1)    Lima bintang yang terbuat dari biji cengkih melambangkan Pancasila dan gambaran potensi alam di Bumiayu dan sekitarnya saat itu memiliki banyak kawasan yang ditanami tumbuhan cengkih,

2)   Sepasang sebelas butir padi hijau melambangkan bulan 11 (November) sebagai bulan berdirinya SMA Negeri 1 Bumiayu dan hijau dipilih sebagai warna padi dengan tujuan kelak kejayaan sekolah bertahan lama (abadi),

3)      Pena melambangkan angka 1 sebagai identitas sekolah,

4)     Dasar pena berbentuk lingkaran dan ujung menyerupai kubah melambangkan masyarakat Bumiayu yang mayoritas beragama muslim,

5)   Kertas putih di belakang pena dan bintang lima dari cengkih melambangkan pendidikan nasional berdasarkan Pancasila,

6)    Lingkaran di bawah pena melambangkan angka 8 dan 0 yang diperindah sebagai ciri tahun berdiri SMA Negeri 1 Bumiayu yakni tahun 1980,

7)    Tulisan SMA Negeri dan Bumiayu melambangkan identitas sekolah,

8)    Pita putih melambangkan seni budaya sebagai bidang yang menjadi bagian dari pada pendidikan di SMA Negeri 1 Bumiayu,

9)   Lingkaran tiga melambangkan seni sebagai bidang yang menjadi bagian dari pada pendidikan di SMA Negeri 1 Bumiayu,

10)  Perisai melambangkan penahan bahaya (pendidikan SMA Negeri 1 Bumiayu menjadi benteng).

11)  Makna-makna warna dasar yakni biru (perdamaian), kuning (kecerahan), merah (keberanian), putih (bersih/ suci), hijau (kesuburan), dan coklat (kehormatan).



Dokumentasi Bapak Abdul Rochim yang diwawancarai Ade Safri Fitria alumni angkatan 33 
(lulus tahun 2017) sebagai pencari fakta sejarah logo SMA Negeri 1 Bumiayu pada tahun 2018
Lokasi : Kediaman Bapak Abdul Rochim di Menggala Langkap, Kecamatan Bumiayu

SEJARAH BERDIRINYA SMA NEGERI 1 BUMIAYU


Dengan berkat rakhmat Tuhan yang Maha Kuasa, bahwa sejarah singkat SMA Negeri 1 Bumiayu sebagai berikut.

Cikal Bakal                 : SMA Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes   (SMA PEMDA)  

Menumpang di            : SMP Negeri 1 Bumiayu (pada awal tahun pelajaran)

Pada Tanggal               : 2 Januari 1974                                          

Disebut                        : SMA PUSPONEGORO 2 Bumiayu                       

Karena pada saat itu belum memiliki gedung sendiri, maka SMA Negeri 1 Bumiayu sempat berpindah-pindah tempat antara lain menyinggahi:

a. Gedung di sebelah Timur Lapangan Asri Bumiayu,

b. Gedung disebelah Selatan Kantor Koramil Bumiayu,

c. Gedung SD Bumiayu 4,

d. Gedung Tua (sekarang SMA An-Nuriyah Bumiayu) dengan Kepala Sekolah saat itu Bapak Hanief   Nasucha,B.A.

Dengan didukung oleh masyarakat Bumiayu, bersama para tokoh masyarakat dan MUSPIKA Kecamatan Bumiayu maka:

1. Mendesak agar di Bumiayu didirikan SMA Negeri, 

2. Mengajukan proposal kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi 

    Jawa Tengah dengan disetujui oleh  Bupati  Brebes,

3. Membentuk Komite pembangunan SMA Negeri 1 Bumiayu dan membangun 6 ruang 

    kelas di Dukuh Talok Desa Dukuhturi  Kecamatan Bumiayu.


Pada hari Rabu tanggal 5 November 1980, SMA PEMDA Bumiayu Kabupaten Brebes diresmikan sebagai SMA NEGERI 1 BUMIAYU Kabupaten Brebes oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah (Bapak Drs. Koestidjo) sesuai dengan SK Mendikbud RI No. 0208/0 /1980  tanggal 30 Juli 1980. Pada tahun tersebut sudah ada kelas 1 dan 2 dan sebagai Kepala Sekolah saat itu adalah Bapak Machali Ali  Seodjono, B.A. yang menjabat pada tahun 1980/1981  sampai dengan tahun 1981/1982.

SMA Negeri 1 Bumiayu telah meluluskan lulusannya sejak tahun 1981 sebagai lulusan pertama dan sampai saat ini sudah meluluskan angkatan ke-37. Semoga piagam sejarah ini bisa dijadikan pedoman untuk mendorong prestasi sekolah menjadi lebih maju. Amin.




Penelusuran sejarah ini disusun dan selesai pada 5 November 2018 

Ade Safri Fitria, S.Pd. (Alumni 2017 angkatan 33)

 

 


Rabu, 08 September 2021

Rudi Si Sahabat Ketemu Gede Akhirnya Nyusul Sarjana Juga

Rudi adalah seekor teman bajingan yang pernah aku kenal dengan segala kepal pembangkangannya baik pada rezim, kecacatan peran organisasi mahasiswa, atau apapun yang berbau dengan ketimpangan. Harusnya aku mulai berbincang sedari jumpa pertama di Jember pada suatu agenda kongres yang ternyata begitu tidak bermutu. Sialnya saat itu aku hanya menyadari ketidaktertarikannya untuk menjadi bagian fungsionaris salah satu organisasi yang katanya mengayomi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia seJawa Madura. Seekor teman ini justru sengaja semesta akrabkan denganku semenjak agenda kompetisi debat tingkat daerah di kampusnya, Univet Sukoharjo. Belum cukup banyak perbincangan saat itu tetapi tanpa mempertimbangkan banyak hal ternyata kami cukup ‘nyambung’ untuk sekadar kongkow.

Tidak pernah secuil pun perkiraan hadir untuk mengira bahwa pertemanan kami berlanjut sejauh negara langgeng dalam perselingkungahannya dengan para elite kapitalis di belakang ketabahan masyarakatnya. Perbincangan-perbincangan kecil berlanjut berkat izin Akung Marx, barangkali. Hari-hari berbagi api berjalan begitu puitis sebab bersama rekan satu ini aku kian menyadari betapa kerdilnya manusia yang tidak ‘membaca’. Berkunjung ke sekretariat serasa padepokan mahasiswa tunawisma kala itu tidak berhasil membuatku mengerti gambaran gerakan mahasiswa atau inovasi himpunan mahasiswa sastra di sana, justru bangsatnya aku malah dipahamkan soal keparatnya mereka yang bergurau dengan wakil rektor dengan begitu khidmatnya. Tak lupa Rudi putra metal ini turut bersaran baiknya aku membawa oleh-oleh khas yang harganya cukup ramah di kalangan kantong mahasiswa bidikmisi, yaitu Ciu Bekonang, Leh!

Perspektifnya tentang kemajuan masyarakat Jawa dari sisi spiritualitas masih cukup lekat membekas dan bahkan masih mendoktrin cara pandangku dalam memaknai pribahasa Jawa “nrimo ing pandhum” atau umpatan “ndherek kersanipun Gusti”. Wacana untuk melanjutkan studi kemudian menjadi budayawan atau keminatan menjadi seorang politikus baginya dan bagiku entah masih tersisa sebagai harap atau tidak, semoga apapun yang kini menjadi asa tetap selalu berpihak pada narasi kebaikan.

Rud, seperti ketabahan Mbok Sukijah juru kunci Tidar yang pernah aku dapati ketauladanannya dalam romantism dialog seputar histori Pakuning Tanah Jawi, aku ingin selalu hidup damai dalam setiap kesederhanaan dan setia menjaga amanah yang selalu bertengger pada jiwa yang tepat. Tapi sialnya ternyata kita hidup mustahil lepas dari ekspektasi dan nafsu. Seandainya aku tidak dituntut lulus 3,5 tahun dengan predikat cumlaude dan kembali ‘pulang’ mungkin aku akan meraih kemerdekaan dengan mencoba bertapa demi olah roso yang lebih serius. Rud, setelah lulus rasanya hidup paling sejahtera sepertinya hanya akan dirasakan mereka yang bebas dengan dirinya sendiri tapi naas aku sudah tidak lagi sebebas mahasiswa yang bisa diskusi di angkringan hingga pagi buta, mengagendakan gerakan, beridealisme sebagai kekayaan terakhir, menggenjreng gitar tanpa pertimbangan fals atau merdu, bedah film, membaca buku, menemani kawanan bermabuk semalaman, menjadi saksi perselingkuhan aktivis-aktivis patriarkat, atau menulis puisi sembari nge-vape dan ngopi. Mungkin setelah ini dirimu turut menyusul kerinduan yang sejenis, atau bahkan sebaliknya kau justru jauh lebih merdeka dari sebelumnya.

Panjang umur, sehat, dan bermanfaat selalu di manapun setelah ini kita berpijak, Rud. Datuk Tan Malaka barangkali akan terus mengawasimu, Rud. Sementara Eyang Sukarno akan terus mengawasiku untuk memastikan cucunya setia bermarhaenisme tetap melalui ruang bawah tanah dan gerakan akar rumput atau bahkan resmi membanteng menjadi kader ‘Ibuk’. Haha. Semoga jiwa reformis kita takan pernah raib ditelan penyesuaian idealisme. Terima kasih untuk segala kisah yang pernah dibagi. Sukoharjo akan selalu mengingatkan seluruh kenang tentang Himaprosa, Rudi yang metal, Ritha yang criwis, Mas Angga yang penyayang, Mas Sandi yang sumeh, semua kawan yang aku dapati di sana, dan Bekonang tentunya! Ohya satu lagi; mengingat Rudi juga turut akan mengingatkan tentang ‘Darah Juang’ dan sahabat kita satu lagi; A Topan si anarko metal UPI punya. Haha.

Tidak ada selamat atau buket atas sarjana-mu, Rud sebab aku merasa bukan itu simbol kasih sayang yang pantas dipersembahkan dari seorang aku. Anyway, maaf dulu tak sempat menemui di stasiun Kutoarjo dan gagal meminjamkan powerbank di tengah aksi Gejayan Memanggil 2019 karena keadaan yang tidak memungkinkan. Selamat melanjutkan petualangan hidup!


Jumat, 13 Agustus 2021

Tak Perlu Penjudulan Bagi Curhatan untuk Bung Arif

  


Jika Plato membutuhkan puluhan tahun masa hidupnya untuk berguru pada Socrates, agaknya aku memerlukan seumur hidupku untuk berguru pada siapapun tanpa terkecuali pada sosok yang adanya lebih dari pada sekadar orang yang lebih dulu andil di GmnI, yakni Bung Arif; Kakak sekaligus sahabat bahkan tak jarang menjadi guru kehidupan, bagiku. Barangkali pengistilahan ini terlalu hiperbol, aku sebut Bung Arif adalah kawan dialektika semenjak masa krisis identitas selama pencarian pisau analisis segala problematika dunia gerakan mahasiswa. Saat aku mendapati titik terendah dalam hal kepercayaan diri hanya karena merasa teralienasi di himpunan, jenuh dengan pemateri serangkaian giat kaderisasi ormawa internal kampus Tuguran yang didominasi pemantik ulung laki-laki dan monoton yaitu lagi-lagi jika bukan Arif Budianto sudah tentu ada nama Krisnaldo Triguswinri atau satu lagi; Siam Khoirul Bahri di pamflet LKMM Pradasar, Dasar, Menengah, dan mulai muak dengan kultur keorganisasian saat itu, dari sanalah aku mulai merasa resah karena enggan merugi berproses di ruang yang menurutku tidak cukup sehat untuk mengembangkan diri. Aku yang tengah getol menyelami narasi-narasi kesetaraan, melalui banyak kontemplasi hingga jarang merebahkan diri untuk memuaskan dahaga atas diskusi, stimulan literasi, atau sekadar nongkrong di angkringan-angkringan hingga pagi buta, sejak saat itu aku mulai bersepakat bahwa membaca menjadi urgensi kematangan berpikir, bersikap, dan mewacanakan pelbagai gerakan baik secara formil keorganisasian atau secara kolektif.

Di tengah persoalan primitif; stigmatisasi organ eksternal dari sudut pandang dedengkot-dedengkot organ intra kampus, aku dulu berikrar bahwa suatu saat aku akan merepresentasikan iktikad kader eksternal yang memang bisa menghegemoni kultur keorganisasian kampus Tuguran tanpa tendeng praktik politik praktis tai kucing dan sepenuhnya konsekuen dengan keberpihakan pada kaum Marhaen yang sebetulnya. Seperti perjalanan yang Bung Arif tau, sedikit banyak pada akhirnya aku berhasil melawan keterasingan, stigmatisasi, mulai terbiasa teguh pada pembiasaan analytycal thinking, bahkan berkesempatan mengisi beberapa kanal diskusi dan mulai belajar menjadi pemateri di beberapa agenda internal maupun eksternal kampus sampai detik ini. Layaknya kutipan Tan Malaka yang sering Bung Arif ujar di beberapa obrolan, “pendidikan mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan” sampailah aku pada pengentasan diri atas pembentukan prinsip-prinsip hidup, penghayatan welas asih atau bahasa literatnya mungkin biasa kita sebut dengan istilah kemanusiaan, cakap adaptif dengan siapapun yang aku temui, barangkali itu hanya sekelumit hasil yang tengah kutuai setelah menyandang gelar sarjana pendidikan.

Kegagalan negara yang kita singgung semalam agaknya tidak lebih naif dari pada kawanan yang dulu terlalu berlebih antipati dengan politik praktis dan pragmatisme bahkan mencacimaki keberadaan organ ekstra, saat ini gelagatnya justru lebih menjijikan dari pada apa yang dulu mereka ludahi sendiri. Beberapa komunikasi politik yang mendatangi kita di masing-masing ruang saat ini ternyata belum juga bisa kita iyakan sebelum kita ‘kelar’ dengan diri sendiri, Bung. Beda halnya dengan mereka yang mudah dibeli dan gumunan dengan iming-iming konsensus wacana politik. Ironinya, di luar ada banyak kawan yang ternyata sudah kebelet mengharap penyelamatan kesejahteraan pribadi dengan cara-cara yang menumbalkan diri untuk menjadi kacung politik prematur. Kita sepakat sampai kapanpun politik secara esensial tetaplah sebuah ‘alat’, tinggal bagaimana hari ini kita jeli membaca peta, kesepakatan mutualisme konkret, dan tentunya tidak menghianati nurani.

Berbicara gerakan, selepas dari dunia kampus, perlahan adikmu ini mulai merapal bagaimana skeptisme tidak jauh bedanya dengan optimistik, Bung. Para marhaen yang tetap dikerdilkan perselingkuhan negara dengan borjuis-borjuis agung, saat ini sudah bukan lagi dongeng di perbincangan tepi jalan, tetapi sudah riil menjadi kesaksian sepanjang hari. Sialan memang! Sempat hadir pergolakan batin mungkin ada benarnya pandangan Gie tentang nasib baik; yakni tak pernah dilahirkan atau dilahirkan tetapi mati muda. Sebab nyatanya hidup kian kemari kian dihujani berjuta keharusan yang musti dipenuhi, seperti memikirkan saku adik, membayari belanjaan becer harian ibu, atau sekadar membeli kuota bulanan. Belum lagi lingkungan sekitar jika dirasa justru ulahnya semakin individualistik. Betul yang Bung Arif kata “semua ini kesalahan kapitalisme!”. Juga menyoal gerakan masa ternyata memang selaras dengan apa yang Bung Arif deskripsikan; bahwa sejatinya tidak pernah ada tendensi substansional dalam gerakan masa, semua hanya tentang pemenuhan eksistensi, cenderung pragmatis, inklusif, dan parokal. Itu sebabnya gerakan masa tak pernah menang secara urgensi tuntutan. Nyaris menyesali sebab pernah ada di dalamnya, tetapi ternyata semua tetap saja bagian dari proses pembentukan yang sarat akan kebermanfaatan.

Aku masih ingat betul bocah penjual krupuk yang menawarkan dagangannya saat kita tengah menanti sendekolo di emperan bakaran Bonpolo. Betapapun hidup memang sawang sinawang dan ternyata ada banyak kelas marhaen dari pada tingkat kemalangan marhaen itu sendiri, Bung. Mulai menelisik banyak hal baru di dunia luar, menuntunku kian mengerti ternyata memang hidup paling sejahtera tidak pernah bisa kita ukur dengan satuan angka semata, justru kedamaian adalah saat kita berhasil menjadi manusia yang berkecukupan dan selalu merasakan kepuasan batin pasca melakukan segala sesuatu. Ya, barangkali wujud nyatanya adalah saat Bung Arif dan Sarinah Ugix yang lapang hati menghidupi ‘Omah Sinau’ dengan hasil finansial yang mungkin terbilang belum seberapa tetapi sepenunhnya menikmati proses bagaimana mendampingi keberlangsungan belajar manusia sekitar. Pun demikian halnya yang aku rasakan di sini, pening meratap nasib yang belum bertemu jodoh rezeki pekerjaan pascalulus, tertekan sebab ekonomi keluarga turut terdampak pandemi, belum lagi banyak ekspektasi orang tua yang musti kuupayakan tetapi masih ada beberapa ruang dan aktivitas yang bisa aku jadikan sumber kedamaian tersendiri, Bung; seperti menyelami bacaan baru yakni literasi seputar efektifitas gerakan sipil, pembangkangan masal yang dilandasi kesadaran kolektif, membaca ‘peta’, dan berulang merenungkan bagaimana bisa keluarga buruh tani selalu tetap saja menjalani hidup sedemikian mengalir dan tak pernah menjual ketamakan apapun. Aku bangga dan bersyukur lahir di keluarga marhaen yang menanamkan nilai anti merampas segala sesuatu yang bukan menjadi haknya walau dalam keadaan sesulit apapun, Bung.

  Biar bagaimana juga aku selalu tetap resah dan gemas setiap ditawarkan kompensasi praktik kompromistik politik, Bung. Mulai tawaran beasiswa S-2 di kampus Gajah, posisi strategis di ormas basis masa, pelibatan proyeksi agenda 2024, ladang penghegemonian gerakan, atau sekadar makan minum gratis di kafe-kafe elit. Yang menjadi persoalan adalah betapa bangsatnya indoktrinasi kaderisasi sistem politik kita yang memang selalu menumbuhkan mindset generasi yang terbiasa dengan budaya menjilat, rakus, dan bermental pengemis. Seandainya tujuan hidupku sebatas ingin menjadi orang kaya dan ternama, mungkin sudah ada berjuta jalan yang bisa kutempuh untuk menuju Roma, Bung. Meski paham betul, usia saat ini seyogyanya memang harus mulai idealis realistis dan haram hukumnya jika terlalu kaku dalam berprinsip, tetapi tetap saja masih ada perenungan bukankah terlalu najis jika aku memakan dan menikmati seluruh tawaran ini di saat mereka yang jauh dari ‘akses’ sistem masih kesulitan memenuhi kebutuhan tugas usus dua belas jari dengan menahan lapar hingga berhari-hari. Di satu sisi, mungkin karena berulang kali tidak menemukan secuilpun pijar di lautan kontestasi, ujungnya aku tetaplah skeptis dengan pola kaderisasi politik hari-hari ini, Bung. Mungkin belum masanya, atau bahkan memang ketidakadilan akibat kapitalism di balik negara akan menjadi momok sekaligus musuh selamanya.

Terlepas dari semua ledakan di atas, aku senang dan sedikit lega bisa berbagi kisah baru dengan Bung Arif baik melalui pesan singkat, percakapan daring, atau tulisan semacam ini. Di manapun kelak kita berpijak, semoga tetap mencoba menjadi baik dan selalu lebih baik. Senada dengan penutup percakapan dari Bung Arif “melalui ruang politik atau pekerjaan profesional, kita harus menyejahterakan diri terlebih dahulu supaya suatu saat bisa lebih leluasa dalam gerakan apapun yang tentunya berpihak pada keberlangsungan hidup masyarakat sipil.” Terakhir, terima kasih atas apapun yang pernah Bung Arif ajarkan dan tauladankan. Lekas membaik, Bung Arif dan Bapak. Sem

Jumat, 22 Januari 2021

Malioboro Tanpa Angklung



“Kita selalu berbeda kecuali dalam hal cinta dan tak pernah ada yang lebih romantis dari pada bahasan menyoal kebenaran.”-
Soe Hok Gie


Seandainya era 4.0 mendatangkan mesin canggih yang bisa melukiskan isi hati dan juga pikir anak manusia dengan kecepatan sekelibat cahaya serta gelombang suara terhantar, sudah tentu akan kupinjam benda itu hanya demi mengilustrasikan bagaimana kebenaran isi lamun di balik hiruk pikuknya kota pelajar; kota istimewa; kota budaya; bahkan kota saksi pelbagai kisah berjuta pasang kekasih. Betapapun tak ada yang lebih puitis dari pada cerita yang tercetus dengan nuansa Jogja sebagai latarnya.

“Ke sini tu cocoknya sama pacar.” celetukmu yang mendapati sepasang kekasih tengah saling bermanja ria teramu hanyut ditelan suasana syahdunya Malioboro sore itu. Aku mendadak kesulitan menelan bakso limaribuan emperan yang tercengang mendengar kalimat itu. Entah karena keberadaanku yang bukan sebagai kekasih tetapi terlanjur membersamai ragamu menikmati Jogja saat itu, atau karena kisahku yang nyaris tak pernah dihabiskan bersama yang terkasih tuk sekadar saling sawang sembari mempuisikan betapa mahalnya suguhan keistimewaan kota Gudeg menjadi sebabnya, atau bahkan hanya karena sebab lain yang bahkan tidak terprediksi jangkauan daya cocoklogisme yang kupunya.

Barangkali patung Abdi Dalem sudi menjadi saksi, hendaknya aku akan meminta pembuktian. Ya bukti atas sedemikian syukurku yang beruntung menemukan satu lelaki yang bahkan kukira keberadaannya punah.   

Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai puncak udara yang setinggi-tingginya; jika patah satu daripada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” – Baba O’illah (Sarinah:17, Bung Karno).

Mendamba pemandangan kesetaraan paling sejati, tadinya kukira itu semua adalah mitos belaka. Ternyata Malioboro yang tanpa angklung hari itu membuktikan jika dalam hidup masih ada kisah seutopis drama ftv, yang misalnya: momen lelaki yang mengimbangi nalar logika perempuan setengah bingung ketika perasaannya dahaga terhasut nafsu memborong tetapi harus memilih sederet buku menarik di hadapannya dengan skala prioritas, sontak kompak menahan buku yang nyaris jatuh dari rak, bersamaan memungut sampah brosur yang terserak di halaman Maal, silih berganti mencarikan jajanan, saling merekomendasikan bahan bacaan, mempersilakan duduk di kursi yang terbatas, atau sesarkas toleransi pilihan keyakinan untuk saling tidak beribadat.

   Aku tidak tahu apakah semua perempuan dalam hidupmu diperlakukan sama atau sebaliknya, tetapi yang kudapati selama mendengar suara dan menatap matamu, aku hanya menemukan hatimu yang berpijar mengkilap tanpa sandiwara. Ketika mengamati pengaminanmu saat akan melahap makan siang di warung sudut alun-alun, aku bahkan tidak menduga-duga itu lawak atau kesungguhan.

Bagaimana kamu menjaga nilai cucu Hawa, di situ aku menyimpulkan terbiasanya tumbuhmu dimahalkan kasih sayang Ibumu. Terlepas dari persoalan bagaimana penyelesaian cemburunya kekasihmu itu, di antara segala egoku pada sesaatnya bahagia yang disaksikan Jogja dan segala keistemewaanya; aku berterima kasih betul atas jawab peyakinan raguku atas mitos kesetaraan.

Kamu dengan segala perjalanan spirituil dan literatmu menjadikan mu sebagai sosok yang terbilang langka.      

Advokasi dan Peran Organisasi Mahasiswa


Preambul

Kampus sebagai representasi miniatur negara di dalam penataan dan pengelolaannya tidak dapat dipisahkan dari satu istilah yang disebut dengan ‘sistem’, mulai dari sistem keorganisasian, sistem penganggaran atau keuangan, sistem administrasi, hingga sistem sosial di lingkungannya. Dalam hal ini kita tidak akan mengulik menyoal sistem yang beraroma ke arah birokrasi kampus, melainkan kita hanya akan membicarakan menyoal sistem organisasi mahasiswa dan segala tetek bengeknya.

Ikan hiu ikan cucut, lanjut!

 Membaca Pintas Organisasi Mahasiswa

Sistem keorganisasian mahasiswa di setiap kampus memiliki keunikan-keunikan yang beragam, tentunya hal ini disebabkan karena kebutuhan dan ‘kultur’ setiap pergerakan organ mahasiswa tiap kampus berbeda-beda. Penataan organisasi mahasiswa biasanya tidak bisa terlepas jauh dari trias politica di mana di dalam suatu kelompok (negara) menerapkan kelembagaan yang berperan di tiga bidang yang meliputi legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Di dunia organisasi kemahasiswaan pada umumnya trias politica tidak diterapkan secara mutlak, umumnya di kampus-kampus organ mahasiswa hanya memenuhi kelembagaan legislatif dan eksekutif. Lembaga legislatif mahasiswa biasanya diperankan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Senat Mahasiswa (Sema), Dewan Mahasiswa (Dema), Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) dan istilah-istilah lain yang sejenis. Sedangkan lembaga eksekutif meliputi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa (Hima), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Badan Semi Otonom (BSO), dan lain sebagainya.

Jika berbicara organ mahasiswa internal kampus kita memang kerap mengenal dinamika yang sebatas persoalan bagaimana peran kelegislatifan dan keeksekutifan, sedangkan jika kita melihat ke sudut pandang luar kampus ada lebih banyak organ mahasiswa eksternal yang dinamikanya sudah mengarah ke kontestasi politik mahasiswa dan dinamika ideologi. Seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) bergerak dengan ideologi maerhaenisme milik Bung Karno misalnya, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dengan ke-NU-an, KAMMI, HMI, IMM, PMKRI, LMND, FMN dan organ ekstra lainnya.

Pada dasarnya jika digeneralkan apapun benderanya, baik organisasi internal maupun eksternal kampus normalnya mereka sama-sama kelompok mahasiswa yang musti bergerak untuk kepentingan mahasiswa; kesejahteraan utamanya. Jika kembali ke hakikat kampus sebagai miniatur negara, tentulah organ mahasiswa ini menjadi pengisi strata yang setara dengan peran pemerintah dalam suatu negara yakni sebagai pemenuh kesejahteraan rakyat (mahasiswa umum). Dengan paradigma yang meluas, bahkan organ mahasiswa sebagai mata pisau mahasiswa selaku agen of change semestinya juga berperan sebagai pioner penyelesaian masalah-masalah yang mengusik kesejahteraan masyarakat; seperti membersamai gerakan kaum buruh dan tani secara konkret di lapangan misalnya atau minimal menjadi individu intelek muda yang mempelopori gerakan kepemudaan di desanya sendiri. Sayangnya hari-hari ini peran organ mahasiswa terancam mengalami kemunduran nilai atas keberadaannya dan perlu dipertanyakan konsistensi perjuangannya tanpa terkecuali peran diri saya sendiri yang dirasa mampu berduduk melingkar untuk rapat dan berdialektika di selasar gedung fakultas dan sekretariat tetapi masih mal-dedikatif di lingkungan masyarakat sekitar.

Aku bertanya; apakah gunanya pendidikan

jika hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibu kota,

kikuk pulang ke daerahnya?

Apakah guna seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja

bila pada akhirnya ketika pulang ke daerahya lalu berkata;

“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

 

Kutipan “Sajak Seonggok Jagung”

W.S. Rendra

 


Aspirasi adalah Syarat Advokasi

Untuk membicarakan perihal advokasi lebih jauh, etisnya kita lebih dulu membahas menyoal aspirasi sebagai akar musabab proses pengadvokasian itu sendiri karena memang hakikat advokasi dapat dilakukan apabila ada suatu aspirasi atau aduan yang jelas dari suatu pihak maupun kelompok yang perlu dibela haknya dalam permasalahan tertentu. Individu ataupun kelompok tidak berwenang untuk menyelenggarakan proses advokasi selama pihak yang tertimpa masalah tidak mengajukan aduan (aspirasi).

Secara esensial aspirasi merupakan kebutuhan atau keinginan yang kuat. Aspirasi juga dapat diartikan sebagai suatu tuntutan yang mengusulkan untuk diadakannya proses atau perubahan terhadap suatu hal. Misalnya aspirasi yang menuntut adanya perbaikan kebijakan penurunan nominal UKT, aspirasi transparansi pengelolaan keuangan universitas, dan lain sebagainya. Aspirasi menurut pembahasaan pribadi dapat digolongkan menjadi dua jenis yakni aspirasi internal dan aspirasi eksternal. Berikut penjelasannya.

a)      Aspirasi internal

Aspirasi internal merupakan tuntutan yang berkaitan dengan kinerja lembaga eksekutif mahasiswa.

b)     Aspirasi eksternal

Aspirasi eksternal merupakan tuntutan yang berkaitan dengan kinerja atau kebijakan yang diberikan oleh birokrasi baik birokrasi kampus maupun pemerintahan.

Organisasi mahasiswa dapat menyerap aspirasi secara langsung maupun tidak langsung. Penyerapan aspirasi secara langsung dapat diimplementasikan dengan melakukan kunjungan terhadap pihak terkait atau pengadaan forum terbuka bagi mahasiswa. Sedangkan penyerapan aspirasi tidak langsung dapat diterapkan dengan menyebar angket baik selebaran maupun google formulir dan sejenisnya.

 Selain aspirasi, organ mahasiswa secara umum dan lembaga legislatif mahasiswa secara khusus harus mampu menjadi organisasi mahasiswa yang memiliki keberanian tinggi dalam mengadvokasi suatu permasalahan yang tercermin dari aspirasi-aspirasi mahasiswa. Advokasi dapat diartikan suatu tindak pembelaan yang sengaja dilakukan dalam rangka mengupayakan perubahan kebijakan yang memang dinilai tidak relevan dengan keadaan dan kebutuhan, atau advokasi ialah upaya mempengaruhi suatu kebijakan publik dalam melakukan pola komunikasi persuasif (ajakan/ proganda).

Dalam penerapannya advokasi tidak hanya dilakukan oleh lembaga legislatif mahasiswa, tetapi dalam hal ini lembaga eksekutif mahasiswa juga harus beriringan sinergis bersama lembaga legislatif mengadvokasikan segala permasalahan yang berkaitan dengan kepentingan mahasiswa agar mencapai kesejahteraan bersama. Sekilas memang advokasi lembaga legislatif dan eksekutif mahasiswa nyaris tidak ada bedanya, tetapi jika ditelisik penuh jeli advokasi yang dilakukan lembaga legislatif melalui proses penjaringan aspirasi untuk mempengaruhi kebijakan, sedangkan advokasi lembaga eksekutif berangkat dari aduan mahasiswa secara langsung dan cenderung lebih intim (pembelaan hak, penuntutan, dll) contohnya kasus cuti.

 Kiat Beradvokasi—ria

Seringnya tokoh-tokoh organ mahasiswa justru terlalu utopis dalam memasang indikator capaian advokasi, bahkan dengan tanpa menafikan diri mulanya saya membayangkan proses menyelesaikan keresahan mahasiswa berarti yaaa peroses yang bersiklus sekadar kajian-profokasi-aksi-publikasi. Haha, konyol sangat memang premis masa lalu saya. Ternyata lambat laun perjalanan empiris penempaan diri dalam berkecimpung di dunia organisasi mahasiswa, pembiasaan berdialektika, memanfaatkan jejaring relasi, dan benturan nyata dalam segala proses akhirnya cukup memahamkan saya untuk mengartikan advokasi berarti perjuangan yang sederhana tetapi tidak sederhana. Dengan kata lain advokasi dalam benak saya merupakan tindak konkret yang dilakukan individu atau kelompok tertentu dalam memperjuangkan hak kaum yang perlu diberi pertolongan pembelaan dan kadar keberhasilannya terletak pada proses advokasi itu sendiri bukan pada istilah ‘menang’ atas penyelesaian kasus tertentu.


“Tidak ada orang yang bermimpi menjadi seseorang yang gagal, tetapi hukum yang menyatakan proses adalah segalanya memang jauh lebih mulia daripada dogma bahwa kemenangan atas sesuatu hal adalah harga diri sebuah perjuangan.”

 

Kiranya perenungan demikian-lah yang menjadi aji-aji selama ini. Penyelesaian masalah dengan langsung menempuh jalan terakhir (demonstrasi) adalah cerita usang yang memang tidak salah, tetapi tidak sepatutnya dibenarkan. Memang secara tanpa sadar pembentukan selama hidup di lembaga eksekutif, himpunan mahasiswa, jujur saja saat itu membawa seisi kepala terlumur doktrin-doktrin ‘kultur’ pergerakan yang relatif konfrontatif dan cenderung bergegas untuk melakukaan hal-hal yang nampak kasat mata demi membela kesejahteraan mahasiswa. Beda cerita dengan aura pola tindak yang saya pelajari di lembaga legislatif mahasiswa. Dengan formulasi perspektif pribadi, berikut kiat advokasi yang dapat saya bagi.

1.      Kenali lalu pahami terlebih dahulu pihak yang akan diperjuangkan dan pihak yang seharusnya mendengarkan; hal ini merupakan pondasi paling mendasar dalam sebuah proses advokasi karena dengan mengenal pihak-pihak yang bersinggungan akan membantu kita secara taktis mampu membaca dan mempersiapkan strategi jitu dalam menyelesaikan suatu masalah. Misalnya saya sebagai DPM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan akan lebih mudah mengadvokasi kasus ketidaksesuaian penentuan nominal UKT terhadap keadaan nyata mahasiswa apabila menggunakan strategi dengar-pendapat atau sebar kuisioner pada publik, mengobservasi kondisi ekonomi keluarga mahasiswa terkait, melaporkan hasil aduan ke wakil dekan kemahasiswaan agar segera ditindaklanjuti ke pihak birokrasi universitas dari pada secara tiba-tiba menyebar pamflet satire yang menyinggung rektor tuli, kampus tidak manusiawi, dsb. 

2.      Tidak selamanya mengadvokasi berarti melawan; serumit apapun masalah kita bukankah semua akan terasa minimal agak mendingan jika kita menceritakannya dengan orang lain? Nah, begitupun dengan advokasi. Menuntut suatu perubahan atas suatu hal yang berkaitan dengan kebijakan dan kesejahteraan tidak melulu harus ditempuh lewat jalur-jalur anarkis seperti membakar ban di depan gedung rektorat, menggebrak meja di ruang audiensi birokrasi kampus dengan organ mahasiswa, atau tindakan-tindakan lain yang justru memiliki potensi memperluas jarak atau sekat antara pihak penuntut dengan pihak yang dituntut.

3.      Ciptakan dan manfaatkan hubungan baik; idealisme mahasiswa rasanya memang mustahil disatukan dengan kedudukan dan kepentingan pejabat-pejabat kampus, entah ini memang budaya wajib di kehidupan sosial kampus atau memang semuanya secara kebetulan terbangun demikian. Eits, meski idealisme adalah harga diri kaum muda bukan berarti kita harus menggadainya jika menginginkan suatu hal dari pihak tertentu, khususnya birokrasi kampus. Hidup yang enak mah hidup yang fleksibel gitu. Bolehlah kita sebagai pion organ mahasiswa menyimpan rasa sinis tersendiri terhadap petinggi kampus di palung hati, tetapi sebagai manusia yang manusia juga sebagai individu yang berpendidikan tidak sewajarnya kita membenci kepersonalan beliau-beliau. Oleh karena itu, harmonisasi perlu diwujudkan agar selain berperan penuh batasan kelas dalam memperjuangkan sesuatu hal yang dianggap rumit, kita dapat meleburkan diri dengan memposisikan hubungan intra-personal. Contoh kondisi tegang aksi masa mahasiswa yang masif biasanya tidak jauh dengan konsekuensi represi pejabat kampus, akan tetapi beda halnya dengan pengalaman saya yang pernah sok-berani berorasi dan sejujurnya khawatir dengan ancaman Pak Dekan serta jajarannya pada akhirnya semua sirna setelah saya dipanggil secara pribadi oleh Kajur saya kemudian membicarakan banyak hal seputar aksi tersebut, ajaibnya hanya karena beliau-beliau mengenal saya sebagai organisator yang tetap konsisten dalam menjaga prestasi dan IPK, data mahasiswa partisipan demonstrasi tiap fakultas yang seharusnya dilaporkan ke wakil rektor agar ditindak lanjut justru saat itu mutlak 100% data saya diputihkan (tidak dicantumkan dalam list mahasiswa provokator aksi delegasi fakultas).

4.      Beli otak dulu baru jual jasa advokasi! Perumpamaan ini mungkin terkesan sarkas, tetapi saya tidak melarang penilaian tersebut karena memang pada kenyataannya banyak sekali mahasiswa bermental baja berani orasi dan heroik dalam berperan di garda terdepan masa aksi atau turut meramaikan tagar provokatif di media sosial agar aksi kelompoknya menjadi trending topik, tetapi dari sini justru tak sedikit dari mereka yang sebenarnya andil tanpa isi kepala. Artinya mereka yang bermental makmum tanpa mengerti substansi yang diperjuangkan hanyalah properti-properti perjalanan advokasi. Memang secara psikologis kekuatan jumlah masa yang mendukung secara moril menjadi logistik non-fisik yang menambah spirit tersendiri bagi seseorang yang menempuh perjuangan advokasi, tetapi jika berbicara perjalanan efektifitas proses, sedikit atau banyaknya pihak pendukung belum tentu menjamin keberhasilan advokasi. Berbicara otak dalam advokasi tentu saja erat kaitannya dengan kedudukan kajian strategi. Kajian strategi menjadi vital dalam penuntutan atas suatu hal, karena dengan meneriakan keinginan saja malah akan ‘ditertawakan’ ketika narasi-narasi dilempar melayang tanpa analisis cermat terhadap permasalahan yang tengah terjadi beserta praduga pembelaan-pembelaan yang mungkin terlontar dari kubu pihak yang dituntut.

5.      Propaganda juga jadi modal advokasi, lho! Apalah arti hasil kajian strategi jika suatu individu atau kelompok belum memiliki daya dalam mempengaruhi pihak yang hendak diperjuangkan kesejahteraannya. Kebanyakan pihak yang ditindas justru kaum yang (maaf) cukup lemah alias tidak bernyali untuk sekadar mengeluh apalagi bersuara. Nah, dari sinilah skill propaganda menjadi penting pula. Bukan berarti propaganda yang perlu ditekuni adalah mekanisme menyebarluaskan pamflet atau spanduk provokatif, tidak. Propaganda di sini juga saya artikan sebagai kemampuan daya mempengaruhi pihak tertindas untuk berani sekadar menceritakan apa yang sebenarnya menjadi ketertekanan pihaknya (individu maupun kelompok). Propaganda akan menjadi suatu kemampuan tingkat dewa jika dibarengi pembiasaan peranan individu atau kelompok mahasiswa yang ‘luwes’ membaur secara non-formal, karena membuka kenyamanan berarti kita sudah membuka kunci keterbukaan, hasekkk.

6.      Lidi satu tidaklah berarti, tetapi lidi yang menjadi satu kesatuan tentulah akan membawa kebermanfaatan; apapun identitas atau ideologinya, organisasi mahasiswa yang sudi saling sinergi dengan menyampingkan tendensi golongan berjuang demi kepentingan yang benar-benar mengatasnamakan kesejahteraan ‘mahasiswa’ akan selalu menjadi basis masa yang kuat dalam memperjuangkan stabilitas kehidupan baik di lingkungan sosial kampus bahkan masyarakat luas.

7.     Sebaik-baiknya niat baik adalah yang dilakukan; advokasi demi apapun tidak akan menjadi berarti jika tidak dilaksanakan.

 Penutup

Perjuangan yang termulia bukan perjuangan yang berujung menang atau yang diikuti banyak pendukung, karena kemuliaan perjuangan letaknya hanya ada di hati masing-masing pemiliknya. Sekian.

Panjang umur perjuangan!


Minggu, 13 September 2020

Akan Dikemanakan Kaderisasi KM FKIP?

     Tak terasa setengah tahun yang telah berlalu ternyata seperti halnya 6 bulan perjalanan. Ya tidak jauh dari angka itu istilah “Yo meh kepiye meneh?” (ya mau gimana lagi?) menjadi perenungan rekan-rekan organisatoris sekaligus menjadi simbol kebesaran hati yang berupaya menerima “kahanan” perkuliahan dan organisasi yang dibenturkan pandemi covid-19 yang juga memaksa setiap individu untuk sesegera mungkin mencari jalan-jalan pintas demi segala keberlangsungan hidup; seperti membiasakan kehidupan serba daring misalnya.
“Pemiranya aja online, dedikasi dan segala prokernya juga online. Wkwk.”
      Terlalu lama otak tumpul dengan kehidupan yang serba dipercandu layar, sampai pada akhirnya celetuk itu muncul di lamunan setiap kali gabut. Sepintas menengok bagaimana memorabilia gerbang kisah Organisasi Mahasiswa (Ormawa) KM FKIP periode 2020/ 2021 aku (Ade) sebagai emaknya DPM FKIP, Kholid dan Rudi sebagai Ketua dan Wakil Ketua BEM FKIP, Singgih Ebit ujung tombak Himaprodi PBSI, Nurvan Arsyada ortu EDSA, Qirom Jian wali Himapipa, Rouf Heni pak’e buk’e Himatika, dan Murdani Lia payung Himapbio awal (banget) terpilih sebagai pimpinan Ormawa KM FKIP kami teko gas-gasan konsolidosa di belakang Sekre Himpunan membahas wacana-wacana brilian untuk pemajuan KM FKIP. Disusul dengan hadirnya sosok Mbak Adin yang sudi menjadi Sekjenku di DPM membuat ruh optimisme akan keberhasilan seluruh lembaga ormawa FKIP semakin cerah.
     Berbagai drama yang ditempuh demi mendapat kolega-kolega militan pada akhirnya bertemulah para insan yang hingga kini digariskan untuk bertahan sebagai rekan seperjuangan baik teman-teman DPM FKIP parlemen abdi rasa, teman-teman BEM FKIP kabinet abdi karya, keluarga besar Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) FKIP yang menjadi satu garda keluarga yang masih setia menjaga istilah “KM FKIP” sekalipun berbagai peliknya keadaan selama pandemi menjadi sandungan dinamika ormawa periode saat ini. Ehm, BTW nggak sengaja juga lho gais otakku dan otak Kholid Rudi seketika aja kompakan membentuk istilah “Parlemen Abdi Rasa” dan “Kabinet Abdi Karya” di masing-masing lembaga kami tanpa kompromi sebelumnya, itu pun kami sadari setelah DPM BEM rilis struktur. Secara sederhana dari sini pun dapat tercermin betapa UWUW-nya kita orang sedari awal membentuk impian yang sevisi untuk keberlangsungan ormawa FKIP.

Suka Duka Ormawa Periode Pandemi
“Esensi berorganisasi tu apa sih kalau bukan belajar untuk menghadapi masalah?”
     Entah berapa manusia yang kerap menyadarkan hal demikian pada ku. Secara tidak spontan akhirnya pola pikir yang tertanam di benakku berorganisasi berarti belajar hidup di antara segala wujud kesengsaraan yang setiap detiknya menjadi rentetan waktu penuh kemubalan (kepusingan). Tapi yaa aku sepakat dengan falsafah Jawa yang selalu menanamkan idiom “Menungso kui opo nandure” artinya apa yang akan menjadi penentu masa depan akan berbanding lurus dengan usaha, pengorbanan, pembelajaran dan segala tindakan di hari-hari kemarin dan saat ini. Pun dengan ungkapan “Jer basuki mawa beya” aku menjadi semakin mengerti organisasi adalah ruang yang tidak salah untuk membentuk penghayatan betapapun kebahagiaan (kesuksesan) dalam hidup hanya akan diraih dengan pengorbanan-pengorbanan. 
     Lebih kekirian kekinian lagi dengan meminjam jargon “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk” milik Tan Malaka aku kian sepakat bahwa melalui organisasilah pembelajaran hidup yang ilmunya tidak ada di bobot SKS mata kuliah dalam kelas justru bisa dengan sebegitu gratisnya mampu diperoleh melalui perlbagai ketertekanan, kepeningan, kesedihan, dan lagi-lagi “pengorbanan”. Aku tak begitu berminat menyisir hal apa saja yang didapat dari kehidupan berorganisasi karena rasanya aku akan terlalu menggeneralisasi indikator capaian pembelajaran di luar kelas, akan tetapi sedikit menyisir dan berbagi sepenggal perjalanan tentu saja melalui pembentukan organisasi mahasiswa (ormawa) aku kian mendapati makna-makna unik kehidupan mulai dari indahnya memiliki segudang relasi, keterampilan manajemen diri dan kelompok, terasahnya kemampuan memimpin, tahan banting, percaya diri, pola pikir terbuka, dan tetek bengek lain sampai bahkan yang paling membedakan ormawa dengan organisasi sekolah adalah satu “kesadaran peran”. Kesadaran peran tak sebatas pada bagaimana kesangaran seorang individu yang melawan tirani sebuah rezim dengan berdemonstrasi, tidak. Lebih dari pada itu memang dengan segala dinamika yang membenturkan aku menjadi paham bagaimana semestinya kehidupan seorang mahasiswa mempertanggungjawabkan statusnya sebagai mahasiswa itu sendiri.
     Kesadaran peran yang tertanam di masing-masing jiwa rekan ormawa KM FKIP tak salah jika pada akhirnya mengalami fase yang krisis akibat wacana-wacana manis di awal tetiba terkikis. Kejenuhan-kejenuhan komunikasi daring yang ditandai dengan menurunnya fungsi utama Whatsapp Grup (WAG) sebagai media keseharian ormawa menjadi kerikil yang memicu masalah-masalah baru. Tumpukan tugas dosen yang tidak sedikit terlalu “bajigur” pun turut mempengaruhi bagaimana spirit kawan-kawan dalam mempertahankan peranan diri di masing-masing kedudukannya. Ah ya, tidak mengelak memang inilah yang terjadi. Rasa pekewuh untuk mengkritik mengevaluasi pun rasanya kian terpupuk dan tumbuh subur dibanding hasrat sebelum organisasi ditimpa kahanan serba daring. Memang bahasa komunikasi primer (langsung) dengan sekunder (tidak langsung) memiliki perbedaan yang sangat signifikan dari segi penyampaian maupun penerimaannya.
     Tak hanya masalah pengkomunikasian, psikis efek terlalu lama di rumah dan jarang berinteraksi sosial juga memicu otak relatif enggan memikirkan hal-hal yang dianggap berat. Dari permasalahan sejenis inilah yang sebenarnya menjadi akar timpangnya peran pengisi struktur ormawa. Di sisi lain teman-teman yang masih mau dan mampu surviv menjadi kian terbentuk karena terbiasa tetap melangkah walau pincang, tetap bermanfaat meski tersayat. Menjamin suatu kesadaran intrapersonal memang bukan perkara mudah, tinggal bagaimana kita belajar dari keadaan ini untuk memahami miniatur kehidupan yang mengenalkan bahwa nyatanya dalam keberlangsungan sosial tidak semua individu memiliki daya tahan bermain peran yang seragam dengan kadar ‘kesadaran’ kita. 
     Terlepas dari sandungan keadaan rumah tangga ormawa, periode pandemi covid-19 juga dihujani tekanan yang tidak kalah dahsyat dari sisi luar. Desakan struktural fakultas yang menuntut ini itu tetapi mempersulit sistem penganggaran, misalnya. Anggaran yang serba dipangkas 50% dari penganggaran awal dengan kriteria pencairan yang cukup memutar balikan otak pun menjadi sensasi tersendiri bagi ormawa periode kali ini. Proker primer serba daring terancam “kurang ngena” dengan sasaran dan harapan semula. Mengharukannya teman-teman ormawa KM FKIP baik legislatif maupun eksekutif justru masih sebertahan itu dalam memperjuangkan program-program dengan mengedepankan asas kebermanfaatan.
     Meminjam doktrin guru sosiologi SMA-ku “Manusia akan selalu bersedia berserikat dan seperjuangan selama ia merasakan penderitaan yang sama rasa”,  aku menjadi bersyukur ada di masa ini bersama rekan-rekan dan adik-adik yang begitu gigih memperjuangkan peran, mengedepankan kebermanfaatan, lebih rutin saling menguatkan meski sekadar spam chat sambatan misuhan, sependeritaan sepengharapan, dan masih banyak hal-hal manis yang ternyata menjadi kesan pembeda dibanding kehidupan berorganisasi di masa yang “B” aja.

Pergibahan Kaderisasi KM FKIP Duniawi
Rasa sulit untuk melepas, khawatir pada kedewasaan generasi yang semakin dipercemas, mempertanyakan kesiapan adik-adik kita, meragukan kecukupan bekal, semua itu hal yang sangat lumrah dirasakan suatu kepemimpinan terhadap nasib organisasi di periode selanjutnya. Kekhawatiran-kekhawatiran itulah yang menjadi simbol kasih sayang dan rasa memiliki baik antar personal maupun sebagai suatu kelompok (organisasi). Pandangan yang kerap ditanam dalam membicarakan kaderisasi “baik buruknya kepemimpinan selanjutnya adalah penentu gagal atau berhasilnya kepemimpinan saat ini”. Dari penanaman inilah rasa cemas itu hadir secara manusiawi.
     Perjalanan periode serba daring jelas berdampak mengurangi nilai-nilai pengalaman atau sisi empiris kader ormawa KM FKIP. Mungkin saja kawan-kawan paham bagaimana cara mengelola administrasi seperti membuat surat undangan atau proposal, mengerti mekanisme sidang dan rapat, paham prinsip merencanakan-melakukan-mempertanggungjawabkan dalam berorganisasi, tetapi secara luas banyak dari kita yang belum begitu mengenal antar pribadi, kurang mengerti dinamika pergerakan mahasiswa yang sesungguhnya, tidak turut demonstrasi di jalanan (eh), kurang gandem dalam merekatkan hubungan anatar personal, tidak cukup kenyang dengan sensasi makan bareng di angkringan, ribut di sekretariat, menyiapkan proker sembari nugas bareng, gabut atau langsung capcus sekretariat setelah makul, rebutan printer sekre Himpunan dan DPM BEM, misohi dosen di sekretariat, gibah di warung pojok atau kantin, apalagi sensasi diusir satpam akibat batasan jam malam, dan banyak hal-hal sederhana yang kurang tercatat dalam memori ormawa periode daring.
     Turun ke perspektif lain jika sebelumnya kita merenungkan bagaimana kurangnya kader Ormawa KM FKIP periode pandemi covid-19 kurang merasakan “sisi lain” berormawa, kita juga perlu menakar bagaimana nasib keterbentukan Maba KM FKIP 2020? Otadama yang dijajah PKKMB menjadi jendela utama yang menghantarkan mindset yang terancam degradasi (menurun) lho, Gais. Secara subjektif aku sinis dengan penggeneralan sistem proses penerimaan mahasiswa baru dengan penyebutan dan konsep “PKKMB” karena jelas:
1. PKKMB merupakan konsep kaderisasi mendikbud dan pihak birokrasi kampus untuk membentuk maba yang nasionalis (tapi cuma versi negara red: semoga paham maksudku),
2. PKKMB secara tidak langsung mengikis kebebasan organ mahasiswa untuk mengenalkan dunia pergerakan yang cenderung kerap mengkritisi sistem tatanan bernegara,
3. PKKMB mempersulit gerak organ mahasiswa dalam memahamkan esensi mahasiswa itu sendiri, 
4. PKKMB hanya mendidik bagaimana jalan ringkas menjadi seorang akademisi yang sukses dengan versi IPK bagus, sopan pada dosen, taat negara, dan kaya akan segudang prestasi, 
5. Ormawa hanya diperankan sebagai (maaf) pembantu umum,
6. Monggo diteruske dewe, Lor.
     Penelusuran Minat Bakat dan Penalaran (PEMANTAPAN) dan LKMM Pradasar yang biasanya diadakan secara luring mampu menjaring bibit-bibit unggul mahasiswa setiap prodi, membentuk daya nalar kritis, mengenal diri, bisa memanajemen diri, kerja tim, dan memiliki karsa yang solid perangkatan, tentunya juga memberi bekal paradigma seputar keormawaan. Nah, dengan penyesuaian serangkaian kaderisasi berbasis daring bagaimana ketercapaian proses pembentukan mahasiswa sesuai kebutuhan dan ‘kulltur’ keprodian?
     Mendaki ke atmosfer fakultas DPM maupun BEM FKIP juga dibuatnya memutar otak lagi-lagi karena kahanan yang mengharuskan celoteh “mau ngga mau” menjadi prinsip yang harus ditegakan. Berangkat dari wacana semula ingin merintis kelas legislatif di negeri FKIP tercinteh, naas semua harus raib lalu pupus karena keadaan belum memungkinkan sehingga munculah ide Program Edukasi Legislatif (PRODUKTIF) yang jujur saja muncul di sela lamunan yang disaksikan keheningan surga inspirasi kehidupan; kamar mandi. Hehe. Tidak munafik sejauh ini kaderisasi legislator di KM Untid maupun FKIP masih terbilang rendah sehingga dampaknya secara signifikan DPM sebagai organisasi yang merepresentasikan kepentingan dan kesejahteraan seluruh lingkup (prodi/ fakultas) yang didelegasikan melalui sistem kolektif-kolegial belum cukup terasa secara optimal. Aku rasa sejauh ini kaderisasi legislatif yang masih dirasa minim karena memang pengenalan dunia kelegislatifan mahasiswa itu sendiri jauh lebih tertinggal dari pada edukasi pereksuktifan, sehingga dengan mengucap “parunten akang teteh” sejauh ini DPM secara global masih kerap kurang maksimal dalam berperan karena orang-orang di dalamnya masih didominasi manusia yang “terpaksa” memilih jalan hidup sebagai legislator. Alasannya beragam, ada yang menjadikan DPM sebagai organisasinya orang-orang yang nggak pengen gabut tapi juga ga pengen capek-capek banget, paham kan? Yas, sejauh ini DPM masih dicap sebagai lembaga yang tidak terlalu banyak peran karena prokernya selalu terbatas padahal jika ditelisik lebih dalam jadi DPM itu uaboteeee ora jamak leh! Menjadi pemikir, konseptor, stabilitator, jembatan, orang yang peka, dll sebenernya itulah bekal-bekal krusial yang harus dilekatkan pada kader-kader legislator. 
     Menengok kaderisasi eksekutif; sejauh ini tidak dipungkiri pula lagi-lagi kader pemimimpin BEM FKIP justru mengalami fase calon tunggal setiap pemira dua tahun belakangan, itupun selalu mendrama terlebih dahulu untuk memunculkan sepasang pahlawan fakultas biru nan santun santuy. Artinya, ada apa dengan kaderisasi eksekutif fakultas? Bahkan kasarnya BEM FKIP pun dari masa ke masa tidak kalah sulitnya dengan DPM FKIP dalam mencari kader militan yang siap berdedikasi benar-benar dari hati (tanpa ajakan). Ya mungkin doktrin “FKIP IS THE BEST” dan ambisi akademik IPK terjaga dan lulus cepet menjadi budaya, sehingga kader-kader ormawa FKIP cenderung merasa cukup menyudahi perjalanan hanya sampai dedikasi maksimal di himpunan. Tetapi jika boleh menjustifikasi, setelah 3 tahun menghayati dinamika perormawaan FKIP aku berani menduga akar krisisnya kader fakultas juga berangkat dari kurang berhasilnya kaderisasi taraf himpunan. Bukan tanpa sebab, jika boleh ria aku pertama kali berangkat di ormawa memulai dari peran sebagai PSDM Himaprodi PBSI kemudian lanjut meniti karir sebagai kahim PBSI 2019, artinya aku memberi nilai lemah pada kaderisasi taraf himpunan karena aku sendiri pernah menyelami hiruk pikuknya.
     Pembiasaan ormawa KM FKIP yang mengedepankan asas kekeluargaan akhirnya menjadi suatu pola yang kebablasen alias kelewatan. Pasalnya kehidupan yang serba sinergis kurang bisa ditempatkan secara bijak. Mustinya keluarga himpunan paham posisi di mana harus berkompromi dan di mana harus saling berkompetisi. Maksudku kompetisi di sini adalah persaingan bagaimana pola persaingan sukses-suksesan kaderisasi himpunan. Contoh konkret antar himpunan saling berlomba mengemas PEMANTAPAN dengan versi yang lebih merujuk kestudian lagi, mbok yao ojo ngono-ngono wae koyo sek uwes-uwes. Bisa juga menempuh langkah saingan melalui pamer-pameran Badan Semi Otonom (BSO) atau komunitas keprodian, pemberian jalur alternatif kaderisasi di luar otadama prodi, Pemantapan, LKMM-PD, membangun strategi politik mahasiswa yang lebih hidup dan dinamis, menanamkan keyakinan ketika identitas prodi mampu menduduki suatu kekuasaan fakultas (BEM/ DPM) berarti pembentukan mahasiswa prodi tersebut dinilai maksimal, dan masih banyak cara lain. 
     Mengenang perjalanan suram tahun-tahun lalu sosok Buyung, Mas Presma aset FKIP dulu sempat menggegerkan Ormawa FKIP periode 2018. Jika tidak salah mengenang, yang kuingat kala itu Buyung menempelkan selebaran di sekitaran sekretariat yang tak aku ingat narasinya tapi di situ pada intinya Buyung mengkritik habis Ormawa FKIP dengan cuitan FKIP kehilangan mahasiswa lah, FKIP banyak mahasiswa apatis lah, dan entah apalagi sampai akhirnya ormawa FKIP berhasil diinisiasi untuk duduk melingkar membicarakan kultur keapatisan (meminjam istilah Buyung saat itu) yang sudah waktunya dimusnahkan dari pergerakan KM FKIP. Pada masa itu aku belum terlalu mengenal sobatque yang ternyata kader militan EDSA yang samaan PSDM semasa aku juga menjadi PSDM di Himaprodi PBSI. Dibarengi aku yang terlalu sering bergaul dengan organ eksternal dan senior-senior asal fakultas lain akhirnya aku terbiasa dibanjiri makian betapa cupunya ormawa FKIP lah, bahkan di era 2016 katanya FKIP pernah diteriaki fakultas banci oleh salah seorang aktivis fakultas lain karena tidak turut andil di aksi KM UNTIDAR, dan masih banyak budaya lama yang masih melekat erat di memori. Pun bukan tanpa pertanggungjawaban, Buyung yang mengkritik rumah sendiri telah terbukti dedikasinya selama ada di sirkel ormawa FKIP hingga detik ini setia menjaga citra fakultas biru di peran ke-presmaan-nya, pun denganku yang kerap protes pada senior-senior PBSI akhirnya berani berangkat nyakahim dan bertahan sampai kiprah di kursi Ketum DPM FKIP sampai kini.
     Tidak, maksudku tidak mengarah bahwa kader terbaik FKIP berarti harus menjadi seperti Buyung atau Ade yang IPK sangar tapi demo ya rajin, tidak Gais. Wkwk. Tetapi maksudku aku sepenuhnya merasakan bagaimana nurani kebanyakan kawan-kawan yang menyayangkan keadaan SDM FKIP, pola pergerakan ormawa yang mungkin masih dinilai monoton, atau apalah itu. Dengan rasa-rasa yang sepadan, cobalah mulai hari ini berani memberangkatkan hati untuk mempertanggungjawabkan keresahan dengan mengambil peran lalu menuntaskan perubahan itu sendiri. Pun belakangan aku berani meyakini bahwa fakultas kita tengah naik daun dengan sistem yang mulai lebih terbentuk semakin rapih (sejak dulu emang ormawa FKIP rapih), sinergisitas antar lembaga semakin solid, DPM semakin jelas pergerakannya, BEM semakin inovatif, Himpunan semakin dinamis, pemikiran-pemikiran kritis mulai kerap tumbuh subur di forum-forum kita, dan masih banyak lagi yang sebenarnya memang sudah menjadi peningkatan kaderisasi rumah biru. Tinggal bagaimana hari-hari ke depan Ormawa FKIP menjaga konsistensi peran dan mengentaskan PR untuk menghapus jarak antara Ormawa dengan Keluarga Mahasiswa umum.

Penutup
     Aku bersyukur telah menemu banyak hal di hari-hari yang panjang selama berormawa di Fakultas Biru. Mengenal banyak dinamika yang membentuk dan menemu banyak manusia baik yang membersamai proses adalah kesan paling bermakna. Teruntuk siapapun yang akan, sedang, dan telah berjuang terima kasih karena menjadi bagian dari catatan juang ruh pergerakan hal baik. Setiap masa ada dinamikanya masing-masing dan setiap dinamika selalu menjadi saksi juang bagi masing-masing masa. Perjuangan harus dituntaskan, pengorbanan harus tetap dirawat. Doa baik teriring bagi kalian yang telah meniti banyak kisah.
Salam.
Hidup mahasiswa!